Selasa, 31 Desember 2019

Terima Kasih Untuk Teman-Temanku yang Meninggalkanku

dipenghujung tahun 2019 adalah saat yang sangat berat untukku..
aku kehilangan kakak-kakak yang selama ini sudah aku anggap kakak kandung sendiri.
perpisahan kita bisa dibilang bukan sesuatu yang baik.
ada yang menghilang kemudian dingin,
ada pula yang memang aku sendiri yang memutuskan untuk jauh.

tahun ini aku banyak kehilangan.
teman, sahabat, kakak dan lingkup pergaulan.
semua sebabnya antara lain karena memang keputusan kami, dia yang pergi, atau aku yang berusaha untuk pergi.
terima kasih untuk tahun mengesankan di 2019.
aku berharap sakit hati ini dapat segera sembuh..
terima kasih untuk hadir mencatat lembaran hidupku yang datar ini..
dari aku yang dulu menyayangi kalian, teman dan kakakku tercinta

Jumat, 20 Desember 2019

Permintaan Maafku untuk Diriku Sendiri

Aku tahu ini tidak adil, bagi aku, bagi kamu, dan bagi situasi pertemanan kita.
aku tidak mau menyalahkan kamu ataupun menyalahkan situasi saat itu. aku hanya ingin menyalahkan diri sendiri yang kalah akan keadaan, yang nggak bisa melawan rasa kecemasan, yang nggak bisa bangkit dari rasa malu dan enggan.

Aku minta maaf pada aku yang telah berubah,
aku minta maaf pada hidupku yang dulu karena tak bisa meneruskannya dengan baik
aku minta maaf pada semua orang di sekitarku karena aku yang tak bisa diandalkan

kenapa aku tidak bisa bilang tidak?
sungguh kehidupan ini rasanya bukan milikku
tubuh dan perasaan ini seperti bukan aku
dan aku ingin kembali ke masa lalu
masa saat aku tersenyum lebar dengan bahu yang tegak.
air mata yang jatuh hanya untuk sesuatu yang penting
bukan jatuh untuk mengasihani diri sendiri

aku sungguh sangat ingin kabur dari sini
aku ingin pergi dari sini
aku tidak ingin di sini
aku ingin bahagia

aku sungguh minta maaf untuk diri sendiri karena tidak bisa menjaga pikiran ini untuk tetap sama seperti dulu
aku sungguh tidak bisa menyuarakan pendapatku bahwa yang kamu lakukan padaku sugguh tidak adil, teman.
aku ingin teriak sekencang-kencangnya di depan wajahmu bahwa aku juga ingin, bahwa bukan kamu saja yang ingin sukses di sini, bukan kamu saja yang ingin menunjukan isi otakmu.
bahwa aku juga punya orang tua yang ingin aku pamerkan atas hasil jerih payah mereka.
aku juga punya orang tua yang tidak ingin aku kecewakan
tapi rasanya kepribadianku merusak segalanya
rasanya semua itu sulit dijangkau
rasanya memang aku yang tidak bisa menggapai keadaan
kenapa aku terus merasa bersalah dan hilang semangat?
kenapa tidak aku buktikan
kenapa aku hanya diam dalam keterpurukan
kenapa aku tidak bisa bangkit

tapi aku sungguh kalah
aku tidak bisa melawan ini
aku benar-benar dalam gelap

aku bukan aku yang dulu
yang bisa tersenyum setiap hari, yang sersisa hanya tangisan dan sakit hati
siapa yang harus aku salahkan atas keadaan ini kalau bukan aku sendiri
atas perbuatan yang aku lakukan sendiri
atas airmata semua ini

Tuhan, aku ingin bahagia..
aku tidak ingin membenci mereka
aku ingin bahagia saat mereka tertawa
tapi aku malah sakit hati,
aku sedih saat mereka tertawa, aku sungguh ingin menangis saat dia tertawa seakan menunjukan betapa lemahnya diriku
aku ingin kuat
apakah aku terlalu banyak keinginan?
mungkin ini sebabnya

Selasa, 03 Desember 2019

Untuk Kamu yang Ingin Menjerit

Aku tidak paham mengapa orang tidak bisa terbuka satu dengan yang lainnya,
kenapa ada orang yang tidak bisa bercerita dengan temannya?
kenpaa pula ada orang yang tidak bisa menerima lingkungannya?

Aku dengan mudahnya bercerita semua hal pada temanku, semua permasalahanku, semua hambatan yang aku terima pada hidupku.
Aku tidak paham mengapa orang-orang tidak bisa hidup tanpa beban seperti diriku.

Aku rindu aku yang dulu,
yang bisa bahagia dengan mudah
yang bisa marah kemudian tertawa tumpah
aku rindu aku yang dulu,
yang selalu bertanya kenapa orang tidak bisa bahagia sepertiku
dan sekarang aku iri pada diriku yang dulu, kenapa kau bisa bahagia dengan tanpa ada kepalsuan,

aku yang dulu begitu kuat dan berdiri tertancap, angin apapun dapat aku lewati laksana debu yang bahkan aku tidak tahu bentuknya. aku sekarang juga, kuat dan berdiri tertancap tapi rapuh. aku mudah goyah dengan dengan angin kecil saja. orang mengira aku masih kuat karena tertancap dengan baik, orang kira aku begitu kokoh yang bisa kuat dengan segala tiupan itu.

namun aku ingin berteriak, aku bukan pohon yang tertancap dulu, aku mudah goyah dan butuh tangan-tangan hangat kalian untuk membantuku tetap berdiri karena aku tak mampu lagi menjerit karena label kokoh ternyata tertancap pula di depanku.

ketika tidak ada tangan yang siap membantumu berdiri maka yakinkan pada dirimu sendiri bahwa serapuh apapun kamu, atau bagaimana kamu hendak tumbang, tetap saja kamu adalah kamu yang sama, kamu tetap kuat dengan caramu sendiri, terima kasih untuk tidah tumbang dengan segala tiupan angin itu. terima kasih untuk tetap selalu bertahan

Jumat, 11 Oktober 2019

Untuk Kamu Yang Selalu Sedih (Mood Swing)

Hai, kamu!
terima kasih untuk apa yang kamu kerjakan hari ini,
terima kasih untuk tidak menyerah,
terima kasih untuk berada di sini bersamaku.

Hari ini berat ya? ingin menangis tapi takut ditanya 'kenapa?' padahal kamu sendiri tidak tahu kenapa kamu sendiri sedih. 'kamu lagi bad mood ya? senyum dong!" kata mereka, padahal kamu sendiri juga ingin tersenyum tapi hati terasa perih.

Tidak apa-apa, kamu sudah hebat. kalau ada salah bicara atau perbuatan mari perbaiki lagi lain kali.
tapi kalau teralu berat tidak apa untuk mengekspresikan diri.

Menangis saja jika kamu ingin menangis, Marah saja jika kamu ingin marah, kecewa saja jika kamu ingin kecewa. kamu juga punya hak untuk semua itu.

mari kita saling menguatkan, karena aku tahu tidak akan ada tempat yang paling tepat untuk bercerita.

mari saling menjaga, karena aku tahu kita pandai untuk menjaga diri sendiri

mari saling mengerti, karena aku tahu kita sulit untuk dimengerti.

dan sampai sekekarangpun aku tak pandai untuk mengatasi diri sendiri, untuk itu

Terima kasih telah mendengar ceritaku, aku.


love your self!
kamu butuh badan yang tegak untuk menghadapi hidup

Minggu, 24 Februari 2019

REVIEW : MY TEACHER (2017) sedikit banyak spoiler :D


Jujur, gue nonton ini karena ceritanya mainstream, yaitu siswa/i yang suka sama gurunya dan mereka akhirnya saling suka. Kalau lo suka baca cerita di wattpad pasti nggak bakalan asing dengan cerita modelan gini.

Film ini menceritakan tentang seorang siswi SMA kelas 2 bernama Shimada Hibiki yang suka sama guru sejarah dunianya Ito Kosaku. Awalnya Hibiki ini anak yang polos nggak tau suka sukaan nggak kayak anak SD zaman sekarang teman - temannya. awal film ini gemesin banget deh ceritanya Hibiki lagi pada upacara, nah barisan Hibiki itu sebelahan sama barisan guru, Hibiki sama Ito sama sama nguap trus liat liatan gitu trus di slow motion, kebayang nggak tuh wkwkwk. Karena Hibiki imut imut belum terkontaminasi virus bucin, dia baik baik aja tuh nggak terpesona atau mimisan diliatin guru ganteng. 

Nah dibagian selanjutnya dia mulai di jadiin umpan noh sama temen temennya yang demen sama guru juga, ceritanya Hibiki salah masukin surat cintanya chigusa (sohibnya Hibiki) eh malah dimasukin ke lokernya Ito sensei dan dialah yang disuruh ngambil lagi, pas diambil terus suratnya dinilai dong, pas adegan ini ngingetin gua sama dorama Itazura Na Kiss atau Naughty Kiss wkwkwk. 


Pokoknya adegan demi adegan, peristiwa demi peristiwa buat Hibiki sadar kalau dia akhirnya suka sama gurunya dan bla bla bla. Kayaknya gue udah teralu banyak ngasih spoiler deh wwkwkwk. Pokoknya pas mereka udah sadar sama perasaan masing masing muncul problem, nih yang suka bawa wattpad pasti tau permasalahannya apa wkwkwk,  eh btw sohibnya Hibiki yang laki laki ( gue ingetnya namanya Kawai ) juga suka sama salah satu guru yang lagi sukain sama guru lainnya, guru lainnya yang disukain sama sohibnya Hibiki yang satu lagi dan ternyata satu guru itu suka sama guru yang disukain Hibiki, nah muter aje terus. Sengaja gue bikin muter muter supaya nggak ketahuan spoilernya wkwkwk

Film ini sebenernya udah ketebak alur ceritanya dari awal sampe akhir, tapi karena gue nax alay yang nggak pernah suka sama guru gue dulu because guru gue udah pada punya anak semua jadi pengen aja gitu ngebayangin hehehe.

Saran gue bagi yang nggak suka film melow, nangis bombay, gampang di tebak alurnya mending jangan nonton, eh tapi nggak papa deng kalau mau nonton sebagai referensi tontonan sekaligus nyari kata kata mutiara, di film ini lumayan banyak kata mutiaranya kok. Bisa lo screenshoot trus dimasukin instastory deh.



“Aku berhak mencintai siapapun yang aku mau” atau apa yang kalimatnya pokoknya gitu deh intinya gue agak agak lupa.
Seperti biasa, gua suka ngebandingin muka pemerannya sama artis indo, sekarang Ito Sensei masa sepenglihatan mata gua yang rabun dia mirip ariel noah atau Armand Maulana. IYA NGGAK SI? Coba nonton makannya biar tau wkwkwk itu foto di atas menurut gue dia mirip banget sama Ariel.

Sayangnya film ini biasa biasa aja bagi orang yang pengen sebuah konflik yang berat. Maka dari itu film ini menjadi film ringan kalau lo nggak mau nonton yang berat –berat, atau lagi males mikir tapi pengen nonton tontonan yang menghibur.

Menurut gue film ini 8/10

bay bay!



Minggu, 17 Februari 2019

SINOPSIS : MARS (Aishworo Ang)

Halo!
Gue balik dengan tugas kuliah semester 1  nih. 
semoga bisa membantu nih atau yang cuma baca baca doang.

Enjoy!


Judul Buku        : MARS
Pengarang       : Aishworo Ang
Penerbit           : Safirah
Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, Desember 2011
Tebal                : 388 Halaman




Pendidikan pertama seorang anak di mulai oleh orang tua, bagi Palupi sosok ibu adalah pengajar terbaik sepanjang hidupnya, yang membuatnya hingga dapat menggapai masa depan yang sangat cerah. Dulu, Walau Dusun Manggarsari, Gunung Kidul tempatnya tinggal masih kental dengan kepercayaan leluhur, meletakan sesajen di bawah pohon, dan ritual – ritual lainnya. Penduduk Dusun Manggasari adalah warga miskin yang membeli air pun tak sanggup, kehidupan mereka pun tak jauh dari penderitaan. Begitu pula dengan Palupi, salah seorang gadis kecil polos dari Dusun Manggarsari yang kebahagiaannya berpusat pada anak kambing yang sudah ia gembalakan sejak sepuluh bulan lalu, meski anak kambing tersebut bukan anak kambing miliknya tapi di Dusun Manggarsari anak – anak kecil lebih mencintai gembalaannya dari pada mainan – mainan anak kota pada umumnya.
            Ibu Palupi bukanlah seseorang yang berpendidikan, ia tidak bisa membaca apalagi menulis, seperti halnya warga Dusun Manggarsari lainnya yang menganggap pendidikan adalah hal yang sangat istimewa. Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMA selebihnya paling tinggi hanya mencapai SMP saja setelah itu rata – rata penduduknya merantau ke kota untuk menjadi pembantu rumah tangga, kerja serabutan, menjadi buruh bangunan atau bagi perempuan dapat berakhir di pelaminan. Menikah muda. Walau begitu Tupon, ibu Palupi, memiliki cita – cita kelak anaknya dapat sekolah setinggi – tingginya. Penduduk Dusun Manggarsari menganggap mengenyam pendidikan bukanlah penentu hidup mereka akan lebih baik, pendidikan setinggi apapun akan berakhir menjadi kuli seperti kebanyakan warga yang telah sekolah tinggi yang pada akhirnya tetap sulit mencari pekerjaan. Tapi, Tupon tetap mengajari Palupi bahwa anaknya ini harus punya ilmu jika ingin menggapai Lintang Lanthip, sebuah bintang yang paling bersinar di langit. Keinginan Tupon memang dipenuhi perjuangan dan pengorbanan, Palupi harus bersekolah walau itu artinya ia hanya makan seadanya, Palupi harus pintar dengan memakan makan bergizi walau Tupon hanya makan nasi tiwul saja.
            Suatu hari datang pemuda dua pulih lima tahunan ke Dusun Manggarsari. Wajahnya cerah, pembawaannya tenang dan yang paling menonjol, dia terlihat terpelajar. Ali Harimurti atau warga sekitar memanggilnya “Ngali” seorang sarjana syariah dari Universitas Al – Azhar namun dengan banyak prestasi dan tawaran menarik lainnya ia lebih memilih mengabdi di daerah tandus dan terpencil dengan segala keterbelakangan. Sedikit demi sedikit “Ngali” berusaha memperbaiki aqidah masyarakat Dusun Manggarsari yang sudah sangat menyimpang dari ajaran agama. Dengan lembut dan rendah hati kebiasaan warga sekitar mulai berubah, tidak memberi sesajen kepada roh dan leluhur dan kebiasaan berpuasa aneh pada hari hari tertentu mulai di tinggalkan.
            Pendaftaran murid baru telah di buka, Tupon dengan semangat untuk mendaftaran Palupi ke sekoalah dasar, pagi – pagi sekali Tupon sudah berdiri di depan sekolah tapi hingga siang hari ia tidak menemukan tanda – tanda keberadaan pendaftaran lain, sampai Pak Nyoto memberi tahu bahwa pendaftaran ternyata baru di buka pekan depan. Tupon pulang dengan rasa kecewa, minggu depannya dengan semangat Tupon kembali mendaftarkan Palupi untuk bersekolah, diberikannya lembaran formulir kepada Tupon, namun ia merasa gelisah dan hanya duduk termangu, bagaimana orang yang tidak bisa baca tulis dapat mengisi formulir dengan baik? Tapi pada ahkirnya Tupon di bantu oleh salah satu guru di sana. Bagi orang dusun seperti Tupon tanggal lagir dan nomer identitas jarang diperdulikan tapi saat ini ia harus rela kembali menggendong Palupi dan balik ke rumah untuk mengambil berkas berkas identitasnya karena ia tidak ingat saat Bu Guru bertanya tentang tangal lahirnya yang bahkan ia tak tahu. Permasalahan kembali datang saat ternyata Palupi tidak bisa mendaftar sekolah karena umurnya belum genap tujuh tahun.
            Tahun berikutnya dengan segala persiapan yang telah matang berekal pengalaman tahun lalu akhirnya Palupi dapat bersekolah. Palupi berteman dengan Warjono yang terkenal sangat nakal dan suka mencuri, hati Tupon sedikit gusar mana kala tetangga mulai membicarakan putrinya, di tambah lagi ia mulai mendengar kabar bahwa Palupi sudah beberapa kali tidak masuk sekolah padahal ia melihat setiap pagi Palupi selalu memakai seragam dan berangkat sekolah. Pada akhirnya di ketahui bahwa Palupi enggan sekolah karena ia selalu di ejek “Anak Jadah” oleh teman temannya yaitu sebutan bagi anak yang lahir tanpa ayah, walau benar adanya Tupon ada rasa sedih mengingat itu kesalahan dirinya dan sekarang anaknya yang menjadi bahan ejekan orang. Setelah kembali masuk sekolah berkat rayuan Tupon, Palupi kembali mendapat masalah karena ia melukai temannya hingga berdarah karena temannya sudah menghina ibunya. Kemudian tanpa adanya pembelaan dari Palupi karena temannya merupakan anak dari guru di sana, Palupi di keluarkan dari sekolah.
            Perjuangan Tupon menyekolahkan Palupi masih berlanjut, Palupi kembali ia daftarkan di sekolah yang cukup jauh dari rumahnya, sekitar tujuh kilometer jaraknya, sekolah barunya masih sama seperti sekolah lamanya yang serba terbatas namun setidaknya teman – teman palupi tidak mengejeknya dengan sebutan “Anak Jadah” lagi. Tupon masih menjadi ibu yang sangat perhatian kepada Palupi, Tupon rela berjalan jauh di malam hari, di tengah hujan deras, melewati bukit – bukit terjal, demi membelikan Palupi sebuat pensil untuk bisa dipakai mengerjakan PR yang dikumpulkan pagi harinya. Tupon masih tetap tidak mengeluh mengantarkan Palupi sekolah tujuh kilometer jauhnya tanpa mengeluh, dan senyumnya masih tetap mengembang ceria. Suatu hari Tupon tidak ceria, Kang Surib, bapaknya Palupi pergi berpulang ke Gusti Allah saat sedang bekerja di penambangan batu kapur. Beban palupi bertambah berat, yang sebelumnya kebutuhan hidup keluarganya bisa seimbang karena ada Kang Surib dan ia fokus mengurus Palupi dan rumah, sekarang ia yang mengerjakan tugas Kang Surib dan mengarjakan tugasnya sekaligus. Sepeninggalnya Kang Surib, Tupon bekerja sebagai penjual tempe. Di lain sisi, bencana terus datang menghampiri Desa Manggarsari, dari pulung gantung yaitu orang yang meninggal karena bunuh diri, hingga kasus matinya ternak milik warga secara misterius. Semua kasus itu di hubungkan oleh Ki Mangun seorang paranormal dusun sebagai akibat marahnya Nyi Gadung Mlati karena warga tak lagi memberikan sajen dan menentang tradisi leluhur apalagi belakangan Ali ingin membangun Masjid dan di tentang olah Ki Mangun, menurutnya tempat yang akan di jadikan Masjid itu adalah tempat peristirahatan Nyi Gadung Mlati. Keresahan warga semakin menjadi jadi dan Ali terpaksa harus meninggalkan Dusun Manggarsari.
            Palupi masih berteman dengan Warjono, namun mereka terpisah karena Warjono harus pergi ke Jogja karena ia ketahuan mencuri ayam dan di jualnya ke pasar karena Warjono ingin membelikan Simbahnya radio yang sebelumnya rusak, simbahnya terharu dengan perjuangan cucunya walau cara yang di tempuhnya salah, tak lupa Palupi di belikan ikat rambut pelagi. Walau sangat nakal Warjono adalah teman yang baik bagi Palupi.
            Sebelas tahun kemudian, Palupi berhasil menyelesaikan sekolahnya dan mendapat beasiswa kuliah di Jogja, di saat yang sama lamaran untuk Palupi datang dari anaknya Ki Mangun, namun Tupon dan Palupi menolaknya. Walaupun banyak omongan dari warga karena menyiakan kesempatan yang sangat besar bagi warga Dusun Manggarsari tapi bagi Palupi dan Tupon, kuliah lebih penting. Sejak jauh - jauh hari Tupon sudah menabung untuk biaya kos Palupi, di Jogja saat sedang mencari kos mereka menemukan dompet yang pada akhirnya berkat dompet tersebut mereka bertemu kembali dengan Ali Harimurti yang ternyata dompet yang mereka temukan milik istrinya “Ngali". Palupi di tawari tempat untuk tinggal selama di Jogja oleh keluarga Ali sekaligus membantu pekerjaan rumah dan ikut menjaga Ilham, anak Ali yang masih bayi. Ali tahu bahwa di Dusun Manggarsari akan ada penerus yang anak membawa desa itu menjadi lebih baik, akan keturunan yang membaca cahaya pada dusun itu.
            Palupi tumbuh menjadi mahasiswa yang pintar, ia dipercaya mengisi seminar di Shrewsbury, lewat obrolannya dengan tokoh  dan hasil belajarnya, kini ia tahu bahwa pulung gantung memiliki banyak sebab salah satunya yaitu faktor kemiskinan. Palupi dewasa kini dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan tentang hubungan antara agama dan kehidupan sehari – harinya, hubungan sebab akibat mengapa semua hal dapat terjadi, Palupi sekarang dapat membuktikan kepada seluruh warga desa bahwa ia bisa, ia dapat sukses.  Palupi berhasil diwisuda menjadi sarjana di kota Jogja, Palupi yang ingin membagi kebahagiaannya kepada simboknya tercinta, ibu yang menginspirasinya tetapi sesampainya di Dusun Manggarsari ia mendapati bahsa simboknya sudah meninggal dunia, Palupi tentu sangat terpukul, di peluknya jenazah simboknya berkali kali tak lupa ia membisikan kata bahwa ia berhasil, berhasil memenuhi mimpi Tupon, simboknya dan bahkan mendapatkan beasiswa pascasarjana di Oxford University.

Selasa, 12 Februari 2019

RESENSI : PARVANA 1 SANG PENCARI NAFKAH ( Sinopsis perbab )


Kali ini gue mau ngebagiin tugas resensi gue dulu waktu SMA, kayaknya ini bukan resensi buku yang sempurna deh, soalnya dulu guru gue nyuruhnya gini "Kalian bikin resensi buku fiksi ya, tapi sinopsis sama pendapat tentang buku dipisah dan sinosis bukunya dibuat per bab"
setau yang pernah dibuat orang di blog lain bentuknya nggak kayak gini, jadi karena gua murid yang baik dan teladan akhirnya gue kerjain dengan hati ikhlas wkwkwkw
oh iya karena dulu gue termasuk murid pemalas jadi sinopsis perbabnya gua bikin dari kalimat buku itu sendiri wkkwwkw

enjoy!

TUGAS BAHASA INDONESIA “RESENSI BUKU FIKSI”
OLEH CAROLINE RAHMA MAULINA
KELAS XII MIPA 2

   1.     Identitas Buku
Judul                          : PARVANA 1 Sang Pencari Nafkah
Judul Asli                   : The Breadwinner
Pengarang                  : Deborah Ellis
Penerjemah                : Adzimattinur Siregar
Penerbit                      : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerbit Awal            : Grroundwood Books
Tahun Terbit             : Cetakan Pertama, Maret 2011
Jumlah Halaman       : 122 Halaman
ISBN-13                     : 978-979-91-0330-7

   2.     Resensi
No.
Bab/Subbab
Informasi Penting
1.
Satu
Parvana merupakan gadis Afghanistan dari daerah Kabul. Pasukan Soviet yang menyerbu Afghanistan dapat di pukul mundur ke negara mereka satu tahun sebelum Parvana di lahirkan kemudian tentara Taliban menguasai sebagian besar daerah Afghanistan. Parvana berusia 11 tahun saat sekolahnya harus terhenti karena tentara Taliban, saat kebebasan para wanita sangat dibatasi. Parvana dengan setia memapah ayahnya yang salah satu kakinya hilang karena perang untuk bekerja di pasar sebagai seorang pembaca dan penulis surat (kurangnya pendidikan bagi rakyat Afghanistan) dan menjual barang barang yang tersisa. Keluarga Parvana terdiri dari Ayah, Ibu, Nooria (Kakaknya), Maryam (Adik pertama), Ali ( Adik keduanya). Sebenarnya Parvana mempunyai kakak sebelum Nooria yang bernama Hossain namun ia harus meninggal saat berusia 14 tahun karena terkena ranjau darat. Keluarga Parvana dahulu merupakan keluarga yang berada dan terpelajar, ayahnya seorang lulusan universitas di Inggris dan ibunya adalah seorang wartawan, namun kehidupan mereka terubah sejak perang terjadi.
2.
Dua
Parvana kini tinggal di apartement kecil berkas terkena ledakan dan mereka terpaksa harus tinggal berjauhan dengan para tetangga karena Taliban selalu mempunyai mata-mata dimanapun. Keluarga besar Parvana harus tidur di satu ruangan yang sama.
Saat makan malam sedang berlangsung tiba-tiba Taliban masuk kedalam ruangan mereka, menarik paksa ayahnya, barang-barang dihembaskan dan dibanting, lemari mereka digeledah takut-takut terdapat buku bacaan. Parvana gelisah, semua buku berbahasa Inggris dan buku pengetahuan milik ayahnya disembunyikan dalam lemari tersebut, Ali yang masih bayi serta Maryam yang berusia 5 tahun terus menangis sementara ibu dan berusaha mencegah Taliban mengambil ayah. Nooria berusaha menenangkan Ali dan Maryam sementara Parvana menghempaskan tubuhnya sendiri agar tidak ada yang dapat mengambil buku milik ayahnya,
3.
Tiga
Setelah ayahnya ditangkap oleh Taliban, Parvana dan Ibunya berusaha mencari keberadaan ayahnya dengan menunjukan foto ayahnay kepada pejalan yang lewat, walau sebenarnya keberadaan foto sangat dilarang. Semua orang yang ditanyai selalu menggeleng tak tau, terlalu banyak orang yang ditahan, terlalu banyak orang yang hilang. Mereka mengunjungi penjara terdekat dengan daerah mereka walau jaraknya sangat jauh, para penjaga tidak mengirauan pertanyaan mereka, usiran dan pukulan harus terpaksa Parvana dan ibunya terima.
4.
Empat
Perjalanan yang panjang membuat baik ia maupun ibunya sangat letih apalagi Parvana harus memapah ibunya seperti memapah ayahnya dulu karena ibunya yang hampi satu tahun tidak keluar rumah dan keadaannya jauh lebih parah dari pada Parvana, kaki ibunya berdarah dan keadaannya cukup memprihatinkan. Sebenarnya Ibu Parvana memiliki kesepatan untuk pergi dari Afghanistan namun ia memilih untuk tinggal “Jika semua orang terpelajar pergi, siapa yang akan membangun negeri ini?” begitulah alasan mengapa ia memilih tinggal. Tapi kini ibunya memilih bergulung dalam selimut dan tidak bergerak sedikitpun hingga seluarga mereka akhirnya kekurangan makanan.
5.
Lima
Keluarganya butuh makanan dan Parvana terpaksa untuk pergi keluar rumah untuk membeli makanan yang kemudian ia dikejar oleh para Taliban, untung ia bertemu Bu Weera seorang teman ibunya di Persatuan Wanita Afghanistan. Kedatangan Bu Weera dalam rumahnya membuat Parvana merasa sedikit lega karena setidaknya ada orang dewasa yang dapat bertanggung jawab dan ibu akhirnya dapat bangun untuk membersihkan diri.
6.
Enam
Keadaan mereka semakin lama semakin memprihatinkan yang membuat Bu Weera dan ibu sepakat untuk membuat Parvana menjadi seorang laki-laki karena ibunya serta Nooria sudah tidak memungkinkan untuk keluar rumah dengan leluasa. Itu semua demi menunjang keuangan keluarganya. Sebagai anak laki-laki ia bisa leluasa keluar masuk pasar, membeli semua peralatan dengan leluasa. Penampilannya sebagai laki-laki membuat ibunya mengingat kembali Hossain dan tampak sedih saat melihat Parvana namun kata Nooria ibu akan segera terbiasa.
7.
Tujuh
Uang terus menipis yang membuat Parvana harus bekerja sebagai orang yang membacakan dan menulis surat, menjual barang barang seperti pekerjaan ayahnya dulu. Ia cukup berpendidikan daripada warga Afghanistan lain. Parvana bekerja di tempat ia dan ayahnya sering berkerja, tepat di samping gedung dekat pasar.
Seorang tentara Taliban tiba-tiba mendatanginya ingin dibacakan surat dan ketika surat seleasi dibacakan seorang Taliban itu meneteskan airmata, Parvana sejenak berfikir mungkinkah tentara Taliban yang kerap memukuli wanita dan anak-anak juga bisa bersedih dan meneteskan air mata?
8.
Delapan
Ibu Parvana kini telah bangkit, ia bekerja sama dengan Bu Weera yang kini sudah tinggal bersama dengan Parvana dengan seorang cucunya. Rutinitas Parvana kini berubah, pagi-pagi sekali ke pasar unntuk bekerja, pulang siang hari untuk makan siang dan kembali ke pasar pada sore hari. Sekarang ia adalah seorang laki-laki yang dapat menjadi pendamping bagi Nooria maupun ibunya agar dapat sejenak berjalan-jalan ke luar rumah.
Saat sedang bekerja ia menyadari bahwa ada sebuah jendela kecil di atasnaya, secarik kain sulam jatuh di atas selimut tempat ia bekerja, dihari berikutnya ia menemukan gelang manik-manik.
Suatu hari ia menemukan sorang pelayan laki-laki yang ia kenali sebagai teman sekolahnya dulu.
9.
Sembilan
Pelayan laki-laki itu ternyata adalah seorang perempuan seperti dirinya, Shauzia namanya. Kehidupannya tak jauh berbeda seperti Parvana yang mengharuskan ia mencari nafkah bagi keluarganya, yang berbeda dari keluarga Shauzia adalah ternyata antara neneknya dengan ibunya tidak akur, keluarga mereka tidak akur.
10.
Sepuluh
Shauzia dan Parvana menginginkan uang lebih untuk modal mereka berjualan di atas baki agar penghasilan mereka meningkat. Akhirnya mereka mendapat pekerjaan sebagai penggali tulang di tempat yang hancur total karena pengeboman dan kuburan hancur berantakan hingga banyak tulang-tulang yang mencuat ke luar. Uang yang mereka dapatkan dari mencari tulang pun cukup banyak.
11.
Sebelas
Parvana memberi tahu keluarganaya tentang pekerjaan barunya sebagai pencari tulang dan langsung ditentang habis-habisan oleh ibunya namun karena kebutuhan yang semakin sulit akhirnya Parvana tetap diizinkan untuk bekerja sebagai pencari tulang denagn syarat ia harus menceritakan segala sesuatunya bahkan hal yang terkecil kepada ibunya dan Bu Weera agar ceritanya dapat dimasukan ke dalam majalah untuk diceritakan kepada seluruh wanita di dunia.
Akirnya dalam beberapa hari Parvana dan Shauzi berhasil membeli baki, saat ia sedang berlatih membawa baki dengan isi di dalamnya seperti rokok, permen karet atau korek api seseorang menjatuhkan sebutir manik kayu berwarna merah.
Kini Parvana sudah mulai berjualan menggunkan baki, saat sedang berkeliling ia dan Shauzia melihat kerumunan orang di stadion olah raga, Parvana dan Shauzia fikir itu baik karena orang mungkin akan menonton sepak bola sambil merokok atau mengunyah permen karet namun suasana kali ini terasa berbeda dan Parvana mulai merasa takut saat tentara Taliban mulai masuk bersama dengan pria yang dibawa dengan tangan terikat, salah seorang tahanan di lebaskan ikatan tangannya dan di giring ke meja, beberapa tentara memeganginya dan memaksanya untuk berlutut, kedua tangannya di rentangakan ke atas meja dan kemudian sebilah pedang di keluarkan dan kemudian yang bisa Parvana lihat hanya darah yang tersebar di mana-mana, pria itu adalah seorang pencuri kata seseorang di samping parvana, Shauzia menunduk saat kejadian itu terjadi
12.
Dua Belas
Setelah melihat hal yang tidak mengenakkan itu Parvana enggan untuk keluar rumah namun ia menyadari ia harus bangkit. Shauzia mengutarakan niatnaya untuk pergi dari Afghanstan dan bahkan Shauzia sudah mulai menabung. Parvana juga menceritakan tentang seseorang yang terus menjatuhkan hadiah kepadanya dari balik jendela.
setiap harinya Parvana selalu menceri cerita baru, entah mendengar cerita dari pelanggannya atau tentang perang dan pertempuran yang mereka alami.
Ibu dan Bu Weera membangun sebuah sekolah kecil rahasia dengan Nooria sebagai gurunya dan hanya mempunyai 5 murid yang umur yang sama dengan Maryam yaitu 5 tahun.
Hadiah yang berjatuhan terus datang setiap dua minggunya.
Suatu sore Parvana mendengar seorang pria yang berteriak marah di jendela itu kemudian terdengar sebuah pukulan di sertai suara wanita yang menangis, Parvana harap wanita itu baik-baik saja.
13.
Tiga Belas
Nooria akan menikah dangan alasan agar Nooria dapat bersekolah kembali karena daerah yang di tembati oleh calon suaminya adalah daerah yang aman dari tentara Taliban dan beraharap menemukan kehidupan yang lebih baik lagi. Namun Parvana enggan meninggalkan Kabul dengan alasan jikalau ayahnya kembali tidak ada orang di rumah. Akhirnya Parvna tidak ikut ke Mazar-e-Sharid tempat calon suami Nooria berada. Parvana tinggal bersama dengan Bu Weera. Setelah kepergian keluarganya membuat parvana merasa hampa. Di beberapa daerah di Afghanistan gadis-gadis seusia Parvana sudah menikah dan memiliki bayi.
Mendekati akhir Agustus terjadi hujan badai yang menyebabkan Shauzia pulang terlebih dahulu dan membuat Parvana berteduh di dalam gedung kosong menyeramkan
14.
Empat Belas
Tepat setelah hujan reda Parvana mendengar seorang wanita menangis, Parvana menangajak wanita itu untuk ke apartementnya dengan susah payah dikarenaka wanita itu tidak mempunyai Chador. Sesampainya di kediaman Parvana Bu Weera menyambut baik wanita sepantaran Parvana itu dan memberikannya makanan, wanita itu melahap semua makanan itu seperti sangat kelaparan setelah selaesai makan ia tertidur. Keesokan paginya ia baru bercerita, namanya Homa dan ia kabuee dari Mazar-e-Sharid, Taliban menyerang mereka. Homa menceritakan betapa kejamnya Taliban membunuh penduduk. Parvana tak mampu berkata-kata lagi, yang ada di dalam pikirannya sekarang hanya ibunuya, kakaknya serta adiknya yang kemungkinan tewaas seperti yang diceritakan oleh Homa. Parvana hilang harapan, ia bergulung ke dalam selimut seperti apa yang ibunya lakukan dahulu, namun selang beberapa hari Parvana sadar bahwa ia harus bangkit. Parvana melewati hari-harinya seperti mimpi buruk yang tak berakhir pada pagi harinya. Kemudian pada suatu sore sepulang bekerja Parvana melihat dua orang dengan lembut membantu ayahnya menaiki tangga apartementnya, setidaknya sebagian mimpi itu telah berakhir.
15.
Lima Belas
Meski sulit dikenali dengan penampilan yang sangat berantakan Parvana tahu itu adalah ayahnya. Kesehatan ayahnya setelah pulang tidak berangsur pulih, Taliban memukulinya dengan sangat sadis, parvana tidak keberatan ayahnya belum mampu berbicara untuk saat in tetapi dengan kedatanga ayahnya saat ini sudah cukup membuat Parvana sangat bahagia. Harapannya kini telah kembali, ia merasa memiliki tujuan hidup.
Shauzia menceritakan kepada Parvana bahwa kakeknya sudah mulai mencarikan seorang suami untuknya tentu saja Shauzia menolaknya mentah-mentah dan kini ia makin tidak sabar untuk pergi dari Afghannistan.
Parvana mendengar bahwa banyak orang yang meninggalkan Mazar dan kemudian tinggal di pengungsian. Keadaan ayah yang berangsur baik membuat Parvana dan ayahnya berencana untuk mencari ibu serta saudara-saudaranya ke pengungsian, Bu Weera akan pergi bersama cucunya dan Homa ke Pakistan sementara Shauzia akan ikut berlayar meninggalkan Afghanistan. Beberapa hari sebelum keberangkatannya mencari ibu dan saudara-saudaranya Parvana mengunjungi tempat kerjanya, sebuah hiasan manic-manik unta jatuh tepan di kepalanya, Parvana senang wanita itu masih hidup dan berencana untuk memberikan salam perpisahan. Ia menanan bunga di tempat ia biasa duduk, walau banyak yang meremehkannya tetapi  masih ada orang yang membantunya. Setelah selesai menanam bungan Parvana melambaikan tangannya kearah jendela itu dan ia merasa ada yang membalas lambaian tangannya.
Tepat sebelum kepergiannya majalah yang ibu dan Bu Weera kerjakan akhirnya selesai dan siap di kirim kepada seluruh wanita di seluruh dunia.
Parvana mengucap janji kepada Shauzia bahwa mereka akan bertemu lagi 20 tahun yang akan datang tepatnya pada musim semi di atas puncak Menara Eiffel di Paris dan kata yang tepat untuk Shauzia dan Parvana bukanlah “selamat tinggal” namun “Sampai jumpa”
Tak ada yang tahu akan masa depan yang terbentang di jalan di hadapannya. Apakah Afghanistan akan damai? Ibu serta saudaranya telah jauh di depannya, Parvana tidak bisa menebak apa yang terjadi kemudian hari. Apapun itu, ia merasa siap.
  
3.     Kelebihan dan Kekurangan
Parvana 1 Sang Pencari Nafkah merupakan seri pertama dalam Trilogi Petualangan Parvana yang ditulis oleh Deborah Ellis yang kemudian di terjemahkan dalam bahasa Indonesia pada tahun 2011. Buku Parwana 1 Sang Pencari Nafkah ini tergolong susah untuk di jumpai di toko buku karena memang sudah tidak di terbitkan lagi, namun jika ada yang ingin membelinya buku ini masih banyak dijumpai di toko online dengan kondisi buku yang beragam.
Secara keseluruhan buku ini termasuk bacaan ringan walau isinya mengandung pembahasan yang cukup berat, penulisnya dapat mengemas kisah Parvana sehingga dapat mudah dipahami dengan baik. Bahasa yang digunakan juga tidak terlalu bertele-tele, padat dan jelas. Buku ini juga dapat juga diibaca oleh semua umur bahkan anak-anak dengan bimbingan orang tua karena banyak sekali pesan yang terdapat di dalam buku ini. Buku ini juga dapat membawa kita ke masa puluhan tahun lalu ketika Afghanistan masih dikuasai oleh Soviet kemudian saat Soviet dipukul mundur kemudian tentara Taliban mulai menguasai Afghanistan. Ketegangan, ketakutan para wanita dan anak-anak Afghanistan bisa tergambarkan dengan jelas dalam buku ini, bagaimana perjuangan mereka menghadapi peperangan, kehilangan sanak saudara, keluarga, dan seluruh harta benda. Kita sebagai pembaca turut serta merasakan penderitaan mereka. Sungguh buku yang sangat memotivasi.
Dalam buku ini juga banyak bahasa dan kosa kata asing, namun arti dari kata tersebut di tempatkan pada halaman paling belakang buku sehingga kita perlu membolak balik halaman dan mencari artinya pada daftar istilah jika menemukan kata asing dan menurut saya itu cukup merepotkan jika dibandingkan dengan buku lain yang menempatkan arti dari istilah asing pada halaman bawah yang terdapat istilah asingnya.

capek

 nggak punya tenaga, capek banget