dipenghujung tahun 2019 adalah saat yang sangat berat untukku..
aku kehilangan kakak-kakak yang selama ini sudah aku anggap kakak kandung sendiri.
perpisahan kita bisa dibilang bukan sesuatu yang baik.
ada yang menghilang kemudian dingin,
ada pula yang memang aku sendiri yang memutuskan untuk jauh.
tahun ini aku banyak kehilangan.
teman, sahabat, kakak dan lingkup pergaulan.
semua sebabnya antara lain karena memang keputusan kami, dia yang pergi, atau aku yang berusaha untuk pergi.
terima kasih untuk tahun mengesankan di 2019.
aku berharap sakit hati ini dapat segera sembuh..
terima kasih untuk hadir mencatat lembaran hidupku yang datar ini..
dari aku yang dulu menyayangi kalian, teman dan kakakku tercinta
Selasa, 31 Desember 2019
Jumat, 20 Desember 2019
Permintaan Maafku untuk Diriku Sendiri
Aku tahu ini tidak adil, bagi aku, bagi kamu, dan bagi situasi pertemanan kita.
aku tidak mau menyalahkan kamu ataupun menyalahkan situasi saat itu. aku hanya ingin menyalahkan diri sendiri yang kalah akan keadaan, yang nggak bisa melawan rasa kecemasan, yang nggak bisa bangkit dari rasa malu dan enggan.
Aku minta maaf pada aku yang telah berubah,
aku minta maaf pada hidupku yang dulu karena tak bisa meneruskannya dengan baik
aku minta maaf pada semua orang di sekitarku karena aku yang tak bisa diandalkan
kenapa aku tidak bisa bilang tidak?
sungguh kehidupan ini rasanya bukan milikku
tubuh dan perasaan ini seperti bukan aku
dan aku ingin kembali ke masa lalu
masa saat aku tersenyum lebar dengan bahu yang tegak.
air mata yang jatuh hanya untuk sesuatu yang penting
bukan jatuh untuk mengasihani diri sendiri
aku sungguh sangat ingin kabur dari sini
aku ingin pergi dari sini
aku tidak ingin di sini
aku ingin bahagia
aku sungguh minta maaf untuk diri sendiri karena tidak bisa menjaga pikiran ini untuk tetap sama seperti dulu
aku sungguh tidak bisa menyuarakan pendapatku bahwa yang kamu lakukan padaku sugguh tidak adil, teman.
aku ingin teriak sekencang-kencangnya di depan wajahmu bahwa aku juga ingin, bahwa bukan kamu saja yang ingin sukses di sini, bukan kamu saja yang ingin menunjukan isi otakmu.
bahwa aku juga punya orang tua yang ingin aku pamerkan atas hasil jerih payah mereka.
aku juga punya orang tua yang tidak ingin aku kecewakan
tapi rasanya kepribadianku merusak segalanya
rasanya semua itu sulit dijangkau
rasanya memang aku yang tidak bisa menggapai keadaan
kenapa aku terus merasa bersalah dan hilang semangat?
kenapa tidak aku buktikan
kenapa aku hanya diam dalam keterpurukan
kenapa aku tidak bisa bangkit
tapi aku sungguh kalah
aku tidak bisa melawan ini
aku benar-benar dalam gelap
aku bukan aku yang dulu
yang bisa tersenyum setiap hari, yang sersisa hanya tangisan dan sakit hati
siapa yang harus aku salahkan atas keadaan ini kalau bukan aku sendiri
atas perbuatan yang aku lakukan sendiri
atas airmata semua ini
Tuhan, aku ingin bahagia..
aku tidak ingin membenci mereka
aku ingin bahagia saat mereka tertawa
tapi aku malah sakit hati,
aku sedih saat mereka tertawa, aku sungguh ingin menangis saat dia tertawa seakan menunjukan betapa lemahnya diriku
aku ingin kuat
apakah aku terlalu banyak keinginan?
mungkin ini sebabnya
aku tidak mau menyalahkan kamu ataupun menyalahkan situasi saat itu. aku hanya ingin menyalahkan diri sendiri yang kalah akan keadaan, yang nggak bisa melawan rasa kecemasan, yang nggak bisa bangkit dari rasa malu dan enggan.
Aku minta maaf pada aku yang telah berubah,
aku minta maaf pada hidupku yang dulu karena tak bisa meneruskannya dengan baik
aku minta maaf pada semua orang di sekitarku karena aku yang tak bisa diandalkan
kenapa aku tidak bisa bilang tidak?
sungguh kehidupan ini rasanya bukan milikku
tubuh dan perasaan ini seperti bukan aku
dan aku ingin kembali ke masa lalu
masa saat aku tersenyum lebar dengan bahu yang tegak.
air mata yang jatuh hanya untuk sesuatu yang penting
bukan jatuh untuk mengasihani diri sendiri
aku sungguh sangat ingin kabur dari sini
aku ingin pergi dari sini
aku tidak ingin di sini
aku ingin bahagia
aku sungguh minta maaf untuk diri sendiri karena tidak bisa menjaga pikiran ini untuk tetap sama seperti dulu
aku sungguh tidak bisa menyuarakan pendapatku bahwa yang kamu lakukan padaku sugguh tidak adil, teman.
aku ingin teriak sekencang-kencangnya di depan wajahmu bahwa aku juga ingin, bahwa bukan kamu saja yang ingin sukses di sini, bukan kamu saja yang ingin menunjukan isi otakmu.
bahwa aku juga punya orang tua yang ingin aku pamerkan atas hasil jerih payah mereka.
aku juga punya orang tua yang tidak ingin aku kecewakan
tapi rasanya kepribadianku merusak segalanya
rasanya semua itu sulit dijangkau
rasanya memang aku yang tidak bisa menggapai keadaan
kenapa aku terus merasa bersalah dan hilang semangat?
kenapa tidak aku buktikan
kenapa aku hanya diam dalam keterpurukan
kenapa aku tidak bisa bangkit
tapi aku sungguh kalah
aku tidak bisa melawan ini
aku benar-benar dalam gelap
aku bukan aku yang dulu
yang bisa tersenyum setiap hari, yang sersisa hanya tangisan dan sakit hati
siapa yang harus aku salahkan atas keadaan ini kalau bukan aku sendiri
atas perbuatan yang aku lakukan sendiri
atas airmata semua ini
Tuhan, aku ingin bahagia..
aku tidak ingin membenci mereka
aku ingin bahagia saat mereka tertawa
tapi aku malah sakit hati,
aku sedih saat mereka tertawa, aku sungguh ingin menangis saat dia tertawa seakan menunjukan betapa lemahnya diriku
aku ingin kuat
apakah aku terlalu banyak keinginan?
mungkin ini sebabnya
Selasa, 03 Desember 2019
Untuk Kamu yang Ingin Menjerit
Aku tidak paham mengapa orang tidak bisa terbuka satu dengan yang lainnya,
kenapa ada orang yang tidak bisa bercerita dengan temannya?
kenpaa pula ada orang yang tidak bisa menerima lingkungannya?
Aku dengan mudahnya bercerita semua hal pada temanku, semua permasalahanku, semua hambatan yang aku terima pada hidupku.
Aku tidak paham mengapa orang-orang tidak bisa hidup tanpa beban seperti diriku.
Aku rindu aku yang dulu,
yang bisa bahagia dengan mudah
yang bisa marah kemudian tertawa tumpah
aku rindu aku yang dulu,
yang selalu bertanya kenapa orang tidak bisa bahagia sepertiku
dan sekarang aku iri pada diriku yang dulu, kenapa kau bisa bahagia dengan tanpa ada kepalsuan,
aku yang dulu begitu kuat dan berdiri tertancap, angin apapun dapat aku lewati laksana debu yang bahkan aku tidak tahu bentuknya. aku sekarang juga, kuat dan berdiri tertancap tapi rapuh. aku mudah goyah dengan dengan angin kecil saja. orang mengira aku masih kuat karena tertancap dengan baik, orang kira aku begitu kokoh yang bisa kuat dengan segala tiupan itu.
namun aku ingin berteriak, aku bukan pohon yang tertancap dulu, aku mudah goyah dan butuh tangan-tangan hangat kalian untuk membantuku tetap berdiri karena aku tak mampu lagi menjerit karena label kokoh ternyata tertancap pula di depanku.
ketika tidak ada tangan yang siap membantumu berdiri maka yakinkan pada dirimu sendiri bahwa serapuh apapun kamu, atau bagaimana kamu hendak tumbang, tetap saja kamu adalah kamu yang sama, kamu tetap kuat dengan caramu sendiri, terima kasih untuk tidah tumbang dengan segala tiupan angin itu. terima kasih untuk tetap selalu bertahan
kenapa ada orang yang tidak bisa bercerita dengan temannya?
kenpaa pula ada orang yang tidak bisa menerima lingkungannya?
Aku dengan mudahnya bercerita semua hal pada temanku, semua permasalahanku, semua hambatan yang aku terima pada hidupku.
Aku tidak paham mengapa orang-orang tidak bisa hidup tanpa beban seperti diriku.
Aku rindu aku yang dulu,
yang bisa bahagia dengan mudah
yang bisa marah kemudian tertawa tumpah
aku rindu aku yang dulu,
yang selalu bertanya kenapa orang tidak bisa bahagia sepertiku
dan sekarang aku iri pada diriku yang dulu, kenapa kau bisa bahagia dengan tanpa ada kepalsuan,
aku yang dulu begitu kuat dan berdiri tertancap, angin apapun dapat aku lewati laksana debu yang bahkan aku tidak tahu bentuknya. aku sekarang juga, kuat dan berdiri tertancap tapi rapuh. aku mudah goyah dengan dengan angin kecil saja. orang mengira aku masih kuat karena tertancap dengan baik, orang kira aku begitu kokoh yang bisa kuat dengan segala tiupan itu.
namun aku ingin berteriak, aku bukan pohon yang tertancap dulu, aku mudah goyah dan butuh tangan-tangan hangat kalian untuk membantuku tetap berdiri karena aku tak mampu lagi menjerit karena label kokoh ternyata tertancap pula di depanku.
ketika tidak ada tangan yang siap membantumu berdiri maka yakinkan pada dirimu sendiri bahwa serapuh apapun kamu, atau bagaimana kamu hendak tumbang, tetap saja kamu adalah kamu yang sama, kamu tetap kuat dengan caramu sendiri, terima kasih untuk tidah tumbang dengan segala tiupan angin itu. terima kasih untuk tetap selalu bertahan
Jumat, 11 Oktober 2019
Untuk Kamu Yang Selalu Sedih (Mood Swing)
Hai, kamu!
terima kasih untuk apa yang kamu kerjakan hari ini,
terima kasih untuk tidak menyerah,
terima kasih untuk berada di sini bersamaku.
Hari ini berat ya? ingin menangis tapi takut ditanya 'kenapa?' padahal kamu sendiri tidak tahu kenapa kamu sendiri sedih. 'kamu lagi bad mood ya? senyum dong!" kata mereka, padahal kamu sendiri juga ingin tersenyum tapi hati terasa perih.
Tidak apa-apa, kamu sudah hebat. kalau ada salah bicara atau perbuatan mari perbaiki lagi lain kali.
tapi kalau teralu berat tidak apa untuk mengekspresikan diri.
Menangis saja jika kamu ingin menangis, Marah saja jika kamu ingin marah, kecewa saja jika kamu ingin kecewa. kamu juga punya hak untuk semua itu.
mari kita saling menguatkan, karena aku tahu tidak akan ada tempat yang paling tepat untuk bercerita.
mari saling menjaga, karena aku tahu kita pandai untuk menjaga diri sendiri
mari saling mengerti, karena aku tahu kita sulit untuk dimengerti.
dan sampai sekekarangpun aku tak pandai untuk mengatasi diri sendiri, untuk itu
Terima kasih telah mendengar ceritaku, aku.
love your self!
kamu butuh badan yang tegak untuk menghadapi hidup
terima kasih untuk apa yang kamu kerjakan hari ini,
terima kasih untuk tidak menyerah,
terima kasih untuk berada di sini bersamaku.
Hari ini berat ya? ingin menangis tapi takut ditanya 'kenapa?' padahal kamu sendiri tidak tahu kenapa kamu sendiri sedih. 'kamu lagi bad mood ya? senyum dong!" kata mereka, padahal kamu sendiri juga ingin tersenyum tapi hati terasa perih.
Tidak apa-apa, kamu sudah hebat. kalau ada salah bicara atau perbuatan mari perbaiki lagi lain kali.
tapi kalau teralu berat tidak apa untuk mengekspresikan diri.
Menangis saja jika kamu ingin menangis, Marah saja jika kamu ingin marah, kecewa saja jika kamu ingin kecewa. kamu juga punya hak untuk semua itu.
mari kita saling menguatkan, karena aku tahu tidak akan ada tempat yang paling tepat untuk bercerita.
mari saling menjaga, karena aku tahu kita pandai untuk menjaga diri sendiri
mari saling mengerti, karena aku tahu kita sulit untuk dimengerti.
dan sampai sekekarangpun aku tak pandai untuk mengatasi diri sendiri, untuk itu
Terima kasih telah mendengar ceritaku, aku.
love your self!
kamu butuh badan yang tegak untuk menghadapi hidup
Minggu, 24 Februari 2019
REVIEW : MY TEACHER (2017) sedikit banyak spoiler :D
Jujur, gue nonton
ini karena ceritanya mainstream, yaitu siswa/i yang suka sama gurunya dan
mereka akhirnya saling suka. Kalau lo suka baca cerita di wattpad pasti nggak
bakalan asing dengan cerita modelan gini.
Film ini
menceritakan tentang seorang siswi SMA kelas 2 bernama Shimada Hibiki yang suka
sama guru sejarah dunianya Ito Kosaku. Awalnya Hibiki ini anak yang polos nggak
tau suka sukaan nggak kayak anak SD zaman sekarang teman - temannya. awal
film ini gemesin banget deh ceritanya Hibiki lagi pada upacara, nah barisan
Hibiki itu sebelahan sama barisan guru, Hibiki sama Ito sama sama nguap trus
liat liatan gitu trus di slow motion, kebayang nggak tuh wkwkwk. Karena Hibiki
imut imut belum terkontaminasi virus bucin, dia baik baik aja tuh nggak terpesona
atau mimisan diliatin guru ganteng.
Nah dibagian selanjutnya dia mulai di
jadiin umpan noh sama temen temennya yang demen sama guru juga, ceritanya
Hibiki salah masukin surat cintanya chigusa (sohibnya Hibiki) eh malah dimasukin
ke lokernya Ito sensei dan dialah yang disuruh ngambil lagi, pas diambil terus
suratnya dinilai dong, pas adegan ini ngingetin gua sama dorama Itazura Na Kiss
atau Naughty Kiss wkwkwk.
Pokoknya adegan demi adegan, peristiwa demi peristiwa
buat Hibiki sadar kalau dia akhirnya suka sama gurunya dan bla bla bla. Kayaknya
gue udah teralu banyak ngasih spoiler deh wwkwkwk. Pokoknya pas mereka udah
sadar sama perasaan masing masing muncul problem, nih yang suka bawa wattpad
pasti tau permasalahannya apa wkwkwk, eh
btw sohibnya Hibiki yang laki laki ( gue ingetnya namanya Kawai ) juga suka
sama salah satu guru yang lagi sukain sama guru lainnya, guru lainnya yang
disukain sama sohibnya Hibiki yang satu lagi dan ternyata satu guru itu suka
sama guru yang disukain Hibiki, nah muter aje terus. Sengaja gue bikin muter
muter supaya nggak ketahuan spoilernya wkwkwk
Film ini
sebenernya udah ketebak alur ceritanya dari awal sampe akhir, tapi karena gue
nax alay yang nggak pernah suka sama guru gue dulu because guru gue udah pada
punya anak semua jadi pengen aja gitu ngebayangin hehehe.
Saran gue bagi
yang nggak suka film melow, nangis bombay, gampang di tebak alurnya mending
jangan nonton, eh tapi nggak papa deng kalau mau nonton sebagai referensi
tontonan sekaligus nyari kata kata mutiara, di film ini lumayan banyak kata
mutiaranya kok. Bisa lo screenshoot trus dimasukin instastory deh.
“Aku berhak
mencintai siapapun yang aku mau” atau apa yang kalimatnya pokoknya gitu deh
intinya gue agak agak lupa.
Seperti biasa,
gua suka ngebandingin muka pemerannya sama artis indo, sekarang Ito Sensei masa
sepenglihatan mata gua yang rabun dia mirip ariel noah atau Armand Maulana. IYA NGGAK SI? Coba nonton
makannya biar tau wkwkwk itu foto di atas menurut gue dia mirip banget sama Ariel.
Sayangnya film
ini biasa biasa aja bagi orang yang pengen sebuah konflik yang berat. Maka dari
itu film ini menjadi film ringan kalau lo nggak mau nonton yang berat –berat,
atau lagi males mikir tapi pengen nonton tontonan yang menghibur.
Menurut gue film ini 8/10
bay bay!
Menurut gue film ini 8/10
bay bay!
Minggu, 17 Februari 2019
SINOPSIS : MARS (Aishworo Ang)
Halo!
Gue balik dengan tugas kuliah semester 1 nih.
semoga bisa membantu nih atau yang cuma baca baca doang.
Enjoy!
Judul Buku : MARS
Pengarang :
Aishworo Ang
Penerbit :
Safirah
Tahun Terbit :
Cetakan Pertama, Desember 2011
Tebal :
388 Halaman
Pendidikan pertama seorang
anak di mulai oleh orang tua, bagi Palupi sosok ibu adalah pengajar terbaik
sepanjang hidupnya, yang membuatnya hingga dapat menggapai masa depan yang
sangat cerah. Dulu, Walau Dusun Manggarsari, Gunung Kidul tempatnya tinggal
masih kental dengan kepercayaan leluhur, meletakan sesajen di bawah pohon, dan
ritual – ritual lainnya. Penduduk Dusun Manggasari adalah warga miskin yang
membeli air pun tak sanggup, kehidupan mereka pun tak jauh dari penderitaan.
Begitu pula dengan Palupi, salah seorang gadis kecil polos dari Dusun Manggarsari
yang kebahagiaannya berpusat pada anak kambing yang sudah ia gembalakan sejak
sepuluh bulan lalu, meski anak kambing tersebut bukan anak kambing miliknya
tapi di Dusun Manggarsari anak – anak kecil lebih mencintai gembalaannya dari
pada mainan – mainan anak kota pada umumnya.
Ibu
Palupi bukanlah seseorang yang berpendidikan, ia tidak bisa membaca apalagi
menulis, seperti halnya warga Dusun Manggarsari lainnya yang menganggap
pendidikan adalah hal yang sangat istimewa. Hanya beberapa orang saja yang
dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMA selebihnya paling tinggi
hanya mencapai SMP saja setelah itu rata – rata penduduknya merantau ke kota
untuk menjadi pembantu rumah tangga, kerja serabutan, menjadi buruh bangunan
atau bagi perempuan dapat berakhir di pelaminan. Menikah muda. Walau begitu
Tupon, ibu Palupi, memiliki cita – cita kelak anaknya dapat sekolah setinggi –
tingginya. Penduduk Dusun Manggarsari menganggap mengenyam pendidikan bukanlah
penentu hidup mereka akan lebih baik, pendidikan setinggi apapun akan berakhir
menjadi kuli seperti kebanyakan warga yang telah sekolah tinggi yang pada
akhirnya tetap sulit mencari pekerjaan. Tapi, Tupon tetap mengajari Palupi
bahwa anaknya ini harus punya ilmu jika ingin menggapai Lintang Lanthip, sebuah
bintang yang paling bersinar di langit. Keinginan Tupon memang dipenuhi
perjuangan dan pengorbanan, Palupi harus bersekolah walau itu artinya ia hanya
makan seadanya, Palupi harus pintar dengan memakan makan bergizi walau Tupon hanya
makan nasi tiwul saja.
Suatu
hari datang pemuda dua pulih lima tahunan ke Dusun Manggarsari. Wajahnya cerah,
pembawaannya tenang dan yang paling menonjol, dia terlihat terpelajar. Ali
Harimurti atau warga sekitar memanggilnya “Ngali” seorang sarjana syariah dari
Universitas Al – Azhar namun dengan banyak prestasi dan tawaran menarik lainnya
ia lebih memilih mengabdi di daerah tandus dan terpencil dengan segala
keterbelakangan. Sedikit demi sedikit “Ngali” berusaha memperbaiki aqidah
masyarakat Dusun Manggarsari yang sudah sangat menyimpang dari ajaran agama.
Dengan lembut dan rendah hati kebiasaan warga sekitar mulai berubah, tidak
memberi sesajen kepada roh dan leluhur dan kebiasaan berpuasa aneh pada hari
hari tertentu mulai di tinggalkan.
Pendaftaran
murid baru telah di buka, Tupon dengan semangat untuk mendaftaran Palupi ke
sekoalah dasar, pagi – pagi sekali Tupon sudah berdiri di depan sekolah tapi
hingga siang hari ia tidak menemukan tanda – tanda keberadaan pendaftaran lain,
sampai Pak Nyoto memberi tahu bahwa pendaftaran ternyata baru di buka pekan
depan. Tupon pulang dengan rasa kecewa, minggu depannya dengan semangat Tupon
kembali mendaftarkan Palupi untuk bersekolah, diberikannya lembaran formulir
kepada Tupon, namun ia merasa gelisah dan hanya duduk termangu, bagaimana orang
yang tidak bisa baca tulis dapat mengisi formulir dengan baik? Tapi pada
ahkirnya Tupon di bantu oleh salah satu guru di sana. Bagi orang dusun seperti
Tupon tanggal lagir dan nomer identitas jarang diperdulikan tapi saat ini ia
harus rela kembali menggendong Palupi dan balik ke rumah untuk mengambil berkas
berkas identitasnya karena ia tidak ingat saat Bu Guru bertanya tentang tangal
lahirnya yang bahkan ia tak tahu. Permasalahan kembali datang saat ternyata
Palupi tidak bisa mendaftar sekolah karena umurnya belum genap tujuh tahun.
Tahun
berikutnya dengan segala persiapan yang telah matang berekal pengalaman tahun
lalu akhirnya Palupi dapat bersekolah. Palupi berteman dengan Warjono yang
terkenal sangat nakal dan suka mencuri, hati Tupon sedikit gusar mana kala
tetangga mulai membicarakan putrinya, di tambah lagi ia mulai mendengar kabar
bahwa Palupi sudah beberapa kali tidak masuk sekolah padahal ia melihat setiap
pagi Palupi selalu memakai seragam dan berangkat sekolah. Pada akhirnya di
ketahui bahwa Palupi enggan sekolah karena ia selalu di ejek “Anak Jadah” oleh
teman temannya yaitu sebutan bagi anak yang lahir tanpa ayah, walau benar
adanya Tupon ada rasa sedih mengingat itu kesalahan dirinya dan sekarang
anaknya yang menjadi bahan ejekan orang. Setelah kembali masuk sekolah berkat
rayuan Tupon, Palupi kembali mendapat masalah karena ia melukai temannya hingga
berdarah karena temannya sudah menghina ibunya. Kemudian tanpa adanya pembelaan
dari Palupi karena temannya merupakan anak dari guru di sana, Palupi di
keluarkan dari sekolah.
Perjuangan
Tupon menyekolahkan Palupi masih berlanjut, Palupi kembali ia daftarkan di
sekolah yang cukup jauh dari rumahnya, sekitar tujuh kilometer jaraknya,
sekolah barunya masih sama seperti sekolah lamanya yang serba terbatas namun
setidaknya teman – teman palupi tidak mengejeknya dengan sebutan “Anak Jadah”
lagi. Tupon masih menjadi ibu yang sangat perhatian kepada Palupi, Tupon rela
berjalan jauh di malam hari, di tengah hujan deras, melewati bukit – bukit
terjal, demi membelikan Palupi sebuat pensil untuk bisa dipakai mengerjakan PR
yang dikumpulkan pagi harinya. Tupon masih tetap tidak mengeluh mengantarkan
Palupi sekolah tujuh kilometer jauhnya tanpa mengeluh, dan senyumnya masih tetap
mengembang ceria. Suatu hari Tupon tidak ceria, Kang Surib, bapaknya Palupi
pergi berpulang ke Gusti Allah saat sedang bekerja di penambangan batu kapur.
Beban palupi bertambah berat, yang sebelumnya kebutuhan hidup keluarganya bisa
seimbang karena ada Kang Surib dan ia fokus mengurus Palupi dan rumah, sekarang
ia yang mengerjakan tugas Kang Surib dan mengarjakan tugasnya sekaligus.
Sepeninggalnya Kang Surib, Tupon bekerja sebagai penjual tempe. Di lain sisi,
bencana terus datang menghampiri Desa Manggarsari, dari pulung gantung yaitu
orang yang meninggal karena bunuh diri, hingga kasus matinya ternak milik warga
secara misterius. Semua kasus itu di hubungkan oleh Ki Mangun seorang
paranormal dusun sebagai akibat marahnya Nyi Gadung Mlati karena warga tak lagi
memberikan sajen dan menentang tradisi leluhur apalagi belakangan Ali ingin
membangun Masjid dan di tentang olah Ki Mangun, menurutnya tempat yang akan di
jadikan Masjid itu adalah tempat peristirahatan Nyi Gadung Mlati. Keresahan
warga semakin menjadi jadi dan Ali terpaksa harus meninggalkan Dusun
Manggarsari.
Palupi
masih berteman dengan Warjono, namun mereka terpisah karena Warjono harus pergi
ke Jogja karena ia ketahuan mencuri ayam dan di jualnya ke pasar karena Warjono
ingin membelikan Simbahnya radio yang sebelumnya rusak, simbahnya terharu
dengan perjuangan cucunya walau cara yang di tempuhnya salah, tak lupa Palupi
di belikan ikat rambut pelagi. Walau sangat nakal Warjono adalah teman yang
baik bagi Palupi.
Sebelas
tahun kemudian, Palupi berhasil menyelesaikan sekolahnya dan mendapat beasiswa
kuliah di Jogja, di saat yang sama lamaran untuk Palupi datang dari anaknya Ki
Mangun, namun Tupon dan Palupi menolaknya. Walaupun banyak omongan dari warga
karena menyiakan kesempatan yang sangat besar bagi warga Dusun Manggarsari tapi
bagi Palupi dan Tupon, kuliah lebih penting. Sejak jauh - jauh hari Tupon sudah
menabung untuk biaya kos Palupi, di Jogja saat sedang mencari kos mereka
menemukan dompet yang pada akhirnya berkat dompet tersebut mereka bertemu
kembali dengan Ali Harimurti yang ternyata dompet yang mereka temukan milik
istrinya “Ngali". Palupi di tawari tempat untuk tinggal selama di Jogja
oleh keluarga Ali sekaligus membantu pekerjaan rumah dan ikut menjaga Ilham,
anak Ali yang masih bayi. Ali tahu bahwa di Dusun Manggarsari akan ada penerus
yang anak membawa desa itu menjadi lebih baik, akan keturunan yang membaca
cahaya pada dusun itu.
Palupi
tumbuh menjadi mahasiswa yang pintar, ia dipercaya mengisi seminar di
Shrewsbury, lewat obrolannya dengan tokoh
dan hasil belajarnya, kini ia tahu bahwa pulung gantung memiliki banyak
sebab salah satunya yaitu faktor kemiskinan. Palupi dewasa kini dapat menjawab
pertanyaan – pertanyaan tentang hubungan antara agama dan kehidupan sehari –
harinya, hubungan sebab akibat mengapa semua hal dapat terjadi, Palupi sekarang
dapat membuktikan kepada seluruh warga desa bahwa ia bisa, ia dapat sukses. Palupi berhasil diwisuda menjadi sarjana di
kota Jogja, Palupi yang ingin membagi kebahagiaannya kepada simboknya tercinta,
ibu yang menginspirasinya tetapi sesampainya di Dusun Manggarsari ia mendapati
bahsa simboknya sudah meninggal dunia, Palupi tentu sangat terpukul, di
peluknya jenazah simboknya berkali kali tak lupa ia membisikan kata bahwa ia
berhasil, berhasil memenuhi mimpi Tupon, simboknya dan bahkan mendapatkan
beasiswa pascasarjana di Oxford University.
Selasa, 12 Februari 2019
RESENSI : PARVANA 1 SANG PENCARI NAFKAH ( Sinopsis perbab )
Kali ini gue mau ngebagiin tugas resensi gue dulu waktu SMA, kayaknya ini bukan resensi buku yang sempurna deh, soalnya dulu guru gue nyuruhnya gini "Kalian bikin resensi buku fiksi ya, tapi sinopsis sama pendapat tentang buku dipisah dan sinosis bukunya dibuat per bab"
setau yang pernah dibuat orang di blog lain bentuknya nggak kayak gini, jadi karena gua murid yang baik dan teladan akhirnya gue kerjain dengan hati ikhlas wkwkwkw
oh iya karena dulu gue termasuk murid pemalas jadi sinopsis perbabnya gua bikin dari kalimat buku itu sendiri wkkwwkw
enjoy!
TUGAS BAHASA INDONESIA “RESENSI BUKU FIKSI”
OLEH CAROLINE RAHMA MAULINA
KELAS XII MIPA 2
1.
Identitas Buku
Judul : PARVANA 1 Sang Pencari Nafkah
Judul Asli : The Breadwinner
Pengarang : Deborah Ellis
Penerjemah : Adzimattinur Siregar
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerbit Awal : Grroundwood Books
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Maret 2011
Jumlah Halaman : 122 Halaman
ISBN-13 : 978-979-91-0330-7
2.
Resensi
|
No.
|
Bab/Subbab
|
Informasi
Penting
|
|
1.
|
Satu
|
Parvana
merupakan gadis Afghanistan dari daerah Kabul. Pasukan Soviet yang menyerbu
Afghanistan dapat di pukul mundur ke negara mereka satu tahun sebelum Parvana
di lahirkan kemudian tentara Taliban menguasai sebagian besar daerah
Afghanistan. Parvana berusia 11 tahun saat sekolahnya harus terhenti karena
tentara Taliban, saat kebebasan para wanita sangat dibatasi. Parvana dengan
setia memapah ayahnya yang salah satu kakinya hilang karena perang untuk
bekerja di pasar sebagai seorang pembaca dan penulis surat (kurangnya
pendidikan bagi rakyat Afghanistan) dan menjual barang barang yang tersisa.
Keluarga Parvana terdiri dari Ayah, Ibu, Nooria (Kakaknya), Maryam (Adik
pertama), Ali ( Adik keduanya). Sebenarnya Parvana mempunyai kakak sebelum
Nooria yang bernama Hossain namun ia harus meninggal saat berusia 14 tahun
karena terkena ranjau darat. Keluarga Parvana dahulu merupakan keluarga yang
berada dan terpelajar, ayahnya seorang lulusan universitas di Inggris dan
ibunya adalah seorang wartawan, namun kehidupan mereka terubah sejak perang
terjadi.
|
|
2.
|
Dua
|
Parvana
kini tinggal di apartement kecil berkas terkena ledakan dan mereka terpaksa
harus tinggal berjauhan dengan para tetangga karena Taliban selalu mempunyai
mata-mata dimanapun. Keluarga besar Parvana harus tidur di satu ruangan yang
sama.
Saat
makan malam sedang berlangsung tiba-tiba Taliban masuk kedalam ruangan
mereka, menarik paksa ayahnya, barang-barang dihembaskan dan dibanting,
lemari mereka digeledah takut-takut terdapat buku bacaan. Parvana gelisah,
semua buku berbahasa Inggris dan buku pengetahuan milik ayahnya disembunyikan
dalam lemari tersebut, Ali yang masih bayi serta Maryam yang berusia 5 tahun
terus menangis sementara ibu dan berusaha mencegah Taliban mengambil ayah.
Nooria berusaha menenangkan Ali dan Maryam sementara Parvana menghempaskan
tubuhnya sendiri agar tidak ada yang dapat mengambil buku milik ayahnya,
|
|
3.
|
Tiga
|
Setelah
ayahnya ditangkap oleh Taliban, Parvana dan Ibunya berusaha mencari
keberadaan ayahnya dengan menunjukan foto ayahnay kepada pejalan yang lewat,
walau sebenarnya keberadaan foto sangat dilarang. Semua orang yang ditanyai
selalu menggeleng tak tau, terlalu banyak orang yang ditahan, terlalu banyak
orang yang hilang. Mereka mengunjungi penjara terdekat dengan daerah mereka
walau jaraknya sangat jauh, para penjaga tidak mengirauan pertanyaan mereka,
usiran dan pukulan harus terpaksa Parvana dan ibunya terima.
|
|
4.
|
Empat
|
Perjalanan
yang panjang membuat baik ia maupun ibunya sangat letih apalagi Parvana harus
memapah ibunya seperti memapah ayahnya dulu karena ibunya yang hampi satu
tahun tidak keluar rumah dan keadaannya jauh lebih parah dari pada Parvana,
kaki ibunya berdarah dan keadaannya cukup memprihatinkan. Sebenarnya Ibu
Parvana memiliki kesepatan untuk pergi dari Afghanistan namun ia memilih
untuk tinggal “Jika semua orang terpelajar pergi, siapa yang akan membangun
negeri ini?” begitulah alasan mengapa ia memilih tinggal. Tapi kini ibunya
memilih bergulung dalam selimut dan tidak bergerak sedikitpun hingga seluarga
mereka akhirnya kekurangan makanan.
|
|
5.
|
Lima
|
Keluarganya
butuh makanan dan Parvana terpaksa untuk pergi keluar rumah untuk membeli
makanan yang kemudian ia dikejar oleh para Taliban, untung ia bertemu Bu
Weera seorang teman ibunya di Persatuan Wanita Afghanistan. Kedatangan Bu Weera
dalam rumahnya membuat Parvana merasa sedikit lega karena setidaknya ada
orang dewasa yang dapat bertanggung jawab dan ibu akhirnya dapat bangun untuk
membersihkan diri.
|
|
6.
|
Enam
|
Keadaan
mereka semakin lama semakin memprihatinkan yang membuat Bu Weera dan ibu
sepakat untuk membuat Parvana menjadi seorang laki-laki karena ibunya serta
Nooria sudah tidak memungkinkan untuk keluar rumah dengan leluasa. Itu semua
demi menunjang keuangan keluarganya. Sebagai anak laki-laki ia bisa leluasa
keluar masuk pasar, membeli semua peralatan dengan leluasa. Penampilannya
sebagai laki-laki membuat ibunya mengingat kembali Hossain dan tampak sedih
saat melihat Parvana namun kata Nooria ibu akan segera terbiasa.
|
|
7.
|
Tujuh
|
Uang
terus menipis yang membuat Parvana harus bekerja sebagai orang yang
membacakan dan menulis surat, menjual barang barang seperti pekerjaan ayahnya
dulu. Ia cukup berpendidikan daripada warga Afghanistan lain. Parvana bekerja
di tempat ia dan ayahnya sering berkerja, tepat di samping gedung dekat pasar.
Seorang
tentara Taliban tiba-tiba mendatanginya ingin dibacakan surat dan ketika
surat seleasi dibacakan seorang Taliban itu meneteskan airmata, Parvana
sejenak berfikir mungkinkah tentara Taliban yang kerap memukuli wanita dan
anak-anak juga bisa bersedih dan meneteskan air mata?
|
|
8.
|
Delapan
|
Ibu
Parvana kini telah bangkit, ia bekerja sama dengan Bu Weera yang kini sudah
tinggal bersama dengan Parvana dengan seorang cucunya. Rutinitas Parvana kini
berubah, pagi-pagi sekali ke pasar unntuk bekerja, pulang siang hari untuk
makan siang dan kembali ke pasar pada sore hari. Sekarang ia adalah seorang
laki-laki yang dapat menjadi pendamping bagi Nooria maupun ibunya agar dapat
sejenak berjalan-jalan ke luar rumah.
Saat
sedang bekerja ia menyadari bahwa ada sebuah jendela kecil di atasnaya,
secarik kain sulam jatuh di atas selimut tempat ia bekerja, dihari berikutnya
ia menemukan gelang manik-manik.
Suatu
hari ia menemukan sorang pelayan laki-laki yang ia kenali sebagai teman
sekolahnya dulu.
|
|
9.
|
Sembilan
|
Pelayan
laki-laki itu ternyata adalah seorang perempuan seperti dirinya, Shauzia
namanya. Kehidupannya tak jauh berbeda seperti Parvana yang mengharuskan ia
mencari nafkah bagi keluarganya, yang berbeda dari keluarga Shauzia adalah
ternyata antara neneknya dengan ibunya tidak akur, keluarga mereka tidak
akur.
|
|
10.
|
Sepuluh
|
Shauzia
dan Parvana menginginkan uang lebih untuk modal mereka berjualan di atas baki
agar penghasilan mereka meningkat. Akhirnya mereka mendapat pekerjaan sebagai
penggali tulang di tempat yang hancur total karena pengeboman dan kuburan
hancur berantakan hingga banyak tulang-tulang yang mencuat ke luar. Uang yang
mereka dapatkan dari mencari tulang pun cukup banyak.
|
|
11.
|
Sebelas
|
Parvana
memberi tahu keluarganaya tentang pekerjaan barunya sebagai pencari tulang
dan langsung ditentang habis-habisan oleh ibunya namun karena kebutuhan yang
semakin sulit akhirnya Parvana tetap diizinkan untuk bekerja sebagai pencari
tulang denagn syarat ia harus menceritakan segala sesuatunya bahkan hal yang
terkecil kepada ibunya dan Bu Weera agar ceritanya dapat dimasukan ke dalam
majalah untuk diceritakan kepada seluruh wanita di dunia.
Akirnya
dalam beberapa hari Parvana dan Shauzi berhasil membeli baki, saat ia sedang
berlatih membawa baki dengan isi di dalamnya seperti rokok, permen karet atau
korek api seseorang menjatuhkan sebutir manik kayu berwarna merah.
Kini
Parvana sudah mulai berjualan menggunkan baki, saat sedang berkeliling ia dan
Shauzia melihat kerumunan orang di stadion olah raga, Parvana dan Shauzia
fikir itu baik karena orang mungkin akan menonton sepak bola sambil merokok
atau mengunyah permen karet namun suasana kali ini terasa berbeda dan Parvana
mulai merasa takut saat tentara Taliban mulai masuk bersama dengan pria yang
dibawa dengan tangan terikat, salah seorang tahanan di lebaskan ikatan
tangannya dan di giring ke meja, beberapa tentara memeganginya dan memaksanya
untuk berlutut, kedua tangannya di rentangakan ke atas meja dan kemudian
sebilah pedang di keluarkan dan kemudian yang bisa Parvana lihat hanya darah
yang tersebar di mana-mana, pria itu adalah seorang pencuri kata seseorang di
samping parvana, Shauzia menunduk saat kejadian itu terjadi
|
|
12.
|
Dua
Belas
|
Setelah
melihat hal yang tidak mengenakkan itu Parvana enggan untuk keluar rumah
namun ia menyadari ia harus bangkit. Shauzia mengutarakan niatnaya untuk
pergi dari Afghanstan dan bahkan Shauzia sudah mulai menabung. Parvana juga
menceritakan tentang seseorang yang terus menjatuhkan hadiah kepadanya dari
balik jendela.
setiap
harinya Parvana selalu menceri cerita baru, entah mendengar cerita dari
pelanggannya atau tentang perang dan pertempuran yang mereka alami.
Ibu
dan Bu Weera membangun sebuah sekolah kecil rahasia dengan Nooria sebagai
gurunya dan hanya mempunyai 5 murid yang umur yang sama dengan Maryam yaitu 5
tahun.
Hadiah
yang berjatuhan terus datang setiap dua minggunya.
Suatu
sore Parvana mendengar seorang pria yang berteriak marah di jendela itu
kemudian terdengar sebuah pukulan di sertai suara wanita yang menangis, Parvana
harap wanita itu baik-baik saja.
|
|
13.
|
Tiga
Belas
|
Nooria
akan menikah dangan alasan agar Nooria dapat bersekolah kembali karena daerah
yang di tembati oleh calon suaminya adalah daerah yang aman dari tentara
Taliban dan beraharap menemukan kehidupan yang lebih baik lagi. Namun Parvana
enggan meninggalkan Kabul dengan alasan jikalau ayahnya kembali tidak ada
orang di rumah. Akhirnya Parvna tidak ikut ke Mazar-e-Sharid tempat calon
suami Nooria berada. Parvana tinggal bersama dengan Bu Weera. Setelah kepergian
keluarganya membuat parvana merasa hampa. Di beberapa daerah di Afghanistan
gadis-gadis seusia Parvana sudah menikah dan memiliki bayi.
Mendekati
akhir Agustus terjadi hujan badai yang menyebabkan Shauzia pulang terlebih
dahulu dan membuat Parvana berteduh di dalam gedung kosong menyeramkan
|
|
14.
|
Empat
Belas
|
Tepat
setelah hujan reda Parvana mendengar seorang wanita menangis, Parvana
menangajak wanita itu untuk ke apartementnya dengan susah payah dikarenaka
wanita itu tidak mempunyai Chador. Sesampainya
di kediaman Parvana Bu Weera menyambut baik wanita sepantaran Parvana itu dan
memberikannya makanan, wanita itu melahap semua makanan itu seperti sangat
kelaparan setelah selaesai makan ia tertidur. Keesokan paginya ia baru
bercerita, namanya Homa dan ia kabuee dari Mazar-e-Sharid, Taliban menyerang
mereka. Homa menceritakan betapa kejamnya Taliban membunuh penduduk. Parvana
tak mampu berkata-kata lagi, yang ada di dalam pikirannya sekarang hanya
ibunuya, kakaknya serta adiknya yang kemungkinan tewaas seperti yang
diceritakan oleh Homa. Parvana hilang harapan, ia bergulung ke dalam selimut
seperti apa yang ibunya lakukan dahulu, namun selang beberapa hari Parvana
sadar bahwa ia harus bangkit. Parvana melewati hari-harinya seperti mimpi
buruk yang tak berakhir pada pagi harinya. Kemudian pada suatu sore sepulang
bekerja Parvana melihat dua orang dengan lembut membantu ayahnya menaiki
tangga apartementnya, setidaknya sebagian mimpi itu telah berakhir.
|
|
15.
|
Lima Belas
|
Meski
sulit dikenali dengan penampilan yang sangat berantakan Parvana tahu itu
adalah ayahnya. Kesehatan ayahnya setelah pulang tidak berangsur pulih,
Taliban memukulinya dengan sangat sadis, parvana tidak keberatan ayahnya
belum mampu berbicara untuk saat in tetapi dengan kedatanga ayahnya saat ini
sudah cukup membuat Parvana sangat bahagia. Harapannya kini telah kembali, ia
merasa memiliki tujuan hidup.
Shauzia
menceritakan kepada Parvana bahwa kakeknya sudah mulai mencarikan seorang
suami untuknya tentu saja Shauzia menolaknya mentah-mentah dan kini ia makin
tidak sabar untuk pergi dari Afghannistan.
Parvana
mendengar bahwa banyak orang yang meninggalkan Mazar dan kemudian tinggal di
pengungsian. Keadaan ayah yang berangsur baik membuat Parvana dan ayahnya
berencana untuk mencari ibu serta saudara-saudaranya ke pengungsian, Bu Weera
akan pergi bersama cucunya dan Homa ke Pakistan sementara Shauzia akan ikut
berlayar meninggalkan Afghanistan. Beberapa hari sebelum keberangkatannya
mencari ibu dan saudara-saudaranya Parvana mengunjungi tempat kerjanya,
sebuah hiasan manic-manik unta jatuh tepan di kepalanya, Parvana senang
wanita itu masih hidup dan berencana untuk memberikan salam perpisahan. Ia
menanan bunga di tempat ia biasa duduk, walau banyak yang meremehkannya
tetapi masih ada orang yang
membantunya. Setelah selesai menanam bungan Parvana melambaikan tangannya
kearah jendela itu dan ia merasa ada yang membalas lambaian tangannya.
Tepat
sebelum kepergiannya majalah yang ibu dan Bu Weera kerjakan akhirnya selesai
dan siap di kirim kepada seluruh wanita di seluruh dunia.
Parvana
mengucap janji kepada Shauzia bahwa mereka akan bertemu lagi 20 tahun yang
akan datang tepatnya pada musim semi di atas puncak Menara Eiffel di Paris
dan kata yang tepat untuk Shauzia dan Parvana bukanlah “selamat tinggal”
namun “Sampai jumpa”
Tak
ada yang tahu akan masa depan yang terbentang di jalan di hadapannya. Apakah
Afghanistan akan damai? Ibu serta saudaranya telah jauh di depannya, Parvana
tidak bisa menebak apa yang terjadi kemudian hari. Apapun itu, ia merasa
siap.
|
3.
Kelebihan dan Kekurangan
Parvana
1 Sang Pencari Nafkah merupakan seri pertama dalam Trilogi Petualangan Parvana yang
ditulis oleh Deborah Ellis yang kemudian di terjemahkan dalam bahasa Indonesia
pada tahun 2011. Buku Parwana 1 Sang
Pencari Nafkah ini tergolong susah untuk di jumpai di toko buku karena
memang sudah tidak di terbitkan lagi, namun jika ada yang ingin membelinya buku
ini masih banyak dijumpai di toko online
dengan kondisi buku yang beragam.
Secara keseluruhan buku ini termasuk bacaan ringan
walau isinya mengandung pembahasan yang cukup berat, penulisnya dapat mengemas kisah
Parvana sehingga dapat mudah dipahami dengan baik. Bahasa yang digunakan juga
tidak terlalu bertele-tele, padat dan jelas. Buku ini juga dapat juga diibaca
oleh semua umur bahkan anak-anak dengan bimbingan orang tua karena banyak
sekali pesan yang terdapat di dalam buku ini. Buku ini juga dapat membawa kita
ke masa puluhan tahun lalu ketika Afghanistan masih dikuasai oleh Soviet
kemudian saat Soviet dipukul mundur kemudian tentara Taliban mulai menguasai
Afghanistan. Ketegangan, ketakutan para wanita dan anak-anak Afghanistan bisa
tergambarkan dengan jelas dalam buku ini, bagaimana perjuangan mereka
menghadapi peperangan, kehilangan sanak saudara, keluarga, dan seluruh harta
benda. Kita sebagai pembaca turut serta merasakan penderitaan mereka. Sungguh
buku yang sangat memotivasi.
Dalam buku ini juga banyak bahasa dan kosa kata
asing, namun arti dari kata tersebut di tempatkan pada halaman paling belakang
buku sehingga kita perlu membolak balik halaman dan mencari artinya pada daftar
istilah jika menemukan kata asing dan menurut saya itu cukup merepotkan jika
dibandingkan dengan buku lain yang menempatkan arti dari istilah asing pada
halaman bawah yang terdapat istilah asingnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
capek
nggak punya tenaga, capek banget
-
Beberapa waktu lalu aku melihat sebuah google drive berisi dokumen seseorang yang telah meninggal dunia karena bunuh diri, dokumen tersebut...
-
Yeayy..akhirnya punya blog sendiri. Bisa mulai posting-posting tulisan deh sekarang. Salam kenal & enjoy yahh temans,
-
Jika dilahirkan kembali apakah aku masih tetap diharapkan oleh orangtuaku? apakah masih ada harapan yang tersisa untuk aku memilih bahagia?...




