Selasa, 12 Februari 2019

RESENSI : PARVANA 1 SANG PENCARI NAFKAH ( Sinopsis perbab )


Kali ini gue mau ngebagiin tugas resensi gue dulu waktu SMA, kayaknya ini bukan resensi buku yang sempurna deh, soalnya dulu guru gue nyuruhnya gini "Kalian bikin resensi buku fiksi ya, tapi sinopsis sama pendapat tentang buku dipisah dan sinosis bukunya dibuat per bab"
setau yang pernah dibuat orang di blog lain bentuknya nggak kayak gini, jadi karena gua murid yang baik dan teladan akhirnya gue kerjain dengan hati ikhlas wkwkwkw
oh iya karena dulu gue termasuk murid pemalas jadi sinopsis perbabnya gua bikin dari kalimat buku itu sendiri wkkwwkw

enjoy!

TUGAS BAHASA INDONESIA “RESENSI BUKU FIKSI”
OLEH CAROLINE RAHMA MAULINA
KELAS XII MIPA 2

   1.     Identitas Buku
Judul                          : PARVANA 1 Sang Pencari Nafkah
Judul Asli                   : The Breadwinner
Pengarang                  : Deborah Ellis
Penerjemah                : Adzimattinur Siregar
Penerbit                      : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerbit Awal            : Grroundwood Books
Tahun Terbit             : Cetakan Pertama, Maret 2011
Jumlah Halaman       : 122 Halaman
ISBN-13                     : 978-979-91-0330-7

   2.     Resensi
No.
Bab/Subbab
Informasi Penting
1.
Satu
Parvana merupakan gadis Afghanistan dari daerah Kabul. Pasukan Soviet yang menyerbu Afghanistan dapat di pukul mundur ke negara mereka satu tahun sebelum Parvana di lahirkan kemudian tentara Taliban menguasai sebagian besar daerah Afghanistan. Parvana berusia 11 tahun saat sekolahnya harus terhenti karena tentara Taliban, saat kebebasan para wanita sangat dibatasi. Parvana dengan setia memapah ayahnya yang salah satu kakinya hilang karena perang untuk bekerja di pasar sebagai seorang pembaca dan penulis surat (kurangnya pendidikan bagi rakyat Afghanistan) dan menjual barang barang yang tersisa. Keluarga Parvana terdiri dari Ayah, Ibu, Nooria (Kakaknya), Maryam (Adik pertama), Ali ( Adik keduanya). Sebenarnya Parvana mempunyai kakak sebelum Nooria yang bernama Hossain namun ia harus meninggal saat berusia 14 tahun karena terkena ranjau darat. Keluarga Parvana dahulu merupakan keluarga yang berada dan terpelajar, ayahnya seorang lulusan universitas di Inggris dan ibunya adalah seorang wartawan, namun kehidupan mereka terubah sejak perang terjadi.
2.
Dua
Parvana kini tinggal di apartement kecil berkas terkena ledakan dan mereka terpaksa harus tinggal berjauhan dengan para tetangga karena Taliban selalu mempunyai mata-mata dimanapun. Keluarga besar Parvana harus tidur di satu ruangan yang sama.
Saat makan malam sedang berlangsung tiba-tiba Taliban masuk kedalam ruangan mereka, menarik paksa ayahnya, barang-barang dihembaskan dan dibanting, lemari mereka digeledah takut-takut terdapat buku bacaan. Parvana gelisah, semua buku berbahasa Inggris dan buku pengetahuan milik ayahnya disembunyikan dalam lemari tersebut, Ali yang masih bayi serta Maryam yang berusia 5 tahun terus menangis sementara ibu dan berusaha mencegah Taliban mengambil ayah. Nooria berusaha menenangkan Ali dan Maryam sementara Parvana menghempaskan tubuhnya sendiri agar tidak ada yang dapat mengambil buku milik ayahnya,
3.
Tiga
Setelah ayahnya ditangkap oleh Taliban, Parvana dan Ibunya berusaha mencari keberadaan ayahnya dengan menunjukan foto ayahnay kepada pejalan yang lewat, walau sebenarnya keberadaan foto sangat dilarang. Semua orang yang ditanyai selalu menggeleng tak tau, terlalu banyak orang yang ditahan, terlalu banyak orang yang hilang. Mereka mengunjungi penjara terdekat dengan daerah mereka walau jaraknya sangat jauh, para penjaga tidak mengirauan pertanyaan mereka, usiran dan pukulan harus terpaksa Parvana dan ibunya terima.
4.
Empat
Perjalanan yang panjang membuat baik ia maupun ibunya sangat letih apalagi Parvana harus memapah ibunya seperti memapah ayahnya dulu karena ibunya yang hampi satu tahun tidak keluar rumah dan keadaannya jauh lebih parah dari pada Parvana, kaki ibunya berdarah dan keadaannya cukup memprihatinkan. Sebenarnya Ibu Parvana memiliki kesepatan untuk pergi dari Afghanistan namun ia memilih untuk tinggal “Jika semua orang terpelajar pergi, siapa yang akan membangun negeri ini?” begitulah alasan mengapa ia memilih tinggal. Tapi kini ibunya memilih bergulung dalam selimut dan tidak bergerak sedikitpun hingga seluarga mereka akhirnya kekurangan makanan.
5.
Lima
Keluarganya butuh makanan dan Parvana terpaksa untuk pergi keluar rumah untuk membeli makanan yang kemudian ia dikejar oleh para Taliban, untung ia bertemu Bu Weera seorang teman ibunya di Persatuan Wanita Afghanistan. Kedatangan Bu Weera dalam rumahnya membuat Parvana merasa sedikit lega karena setidaknya ada orang dewasa yang dapat bertanggung jawab dan ibu akhirnya dapat bangun untuk membersihkan diri.
6.
Enam
Keadaan mereka semakin lama semakin memprihatinkan yang membuat Bu Weera dan ibu sepakat untuk membuat Parvana menjadi seorang laki-laki karena ibunya serta Nooria sudah tidak memungkinkan untuk keluar rumah dengan leluasa. Itu semua demi menunjang keuangan keluarganya. Sebagai anak laki-laki ia bisa leluasa keluar masuk pasar, membeli semua peralatan dengan leluasa. Penampilannya sebagai laki-laki membuat ibunya mengingat kembali Hossain dan tampak sedih saat melihat Parvana namun kata Nooria ibu akan segera terbiasa.
7.
Tujuh
Uang terus menipis yang membuat Parvana harus bekerja sebagai orang yang membacakan dan menulis surat, menjual barang barang seperti pekerjaan ayahnya dulu. Ia cukup berpendidikan daripada warga Afghanistan lain. Parvana bekerja di tempat ia dan ayahnya sering berkerja, tepat di samping gedung dekat pasar.
Seorang tentara Taliban tiba-tiba mendatanginya ingin dibacakan surat dan ketika surat seleasi dibacakan seorang Taliban itu meneteskan airmata, Parvana sejenak berfikir mungkinkah tentara Taliban yang kerap memukuli wanita dan anak-anak juga bisa bersedih dan meneteskan air mata?
8.
Delapan
Ibu Parvana kini telah bangkit, ia bekerja sama dengan Bu Weera yang kini sudah tinggal bersama dengan Parvana dengan seorang cucunya. Rutinitas Parvana kini berubah, pagi-pagi sekali ke pasar unntuk bekerja, pulang siang hari untuk makan siang dan kembali ke pasar pada sore hari. Sekarang ia adalah seorang laki-laki yang dapat menjadi pendamping bagi Nooria maupun ibunya agar dapat sejenak berjalan-jalan ke luar rumah.
Saat sedang bekerja ia menyadari bahwa ada sebuah jendela kecil di atasnaya, secarik kain sulam jatuh di atas selimut tempat ia bekerja, dihari berikutnya ia menemukan gelang manik-manik.
Suatu hari ia menemukan sorang pelayan laki-laki yang ia kenali sebagai teman sekolahnya dulu.
9.
Sembilan
Pelayan laki-laki itu ternyata adalah seorang perempuan seperti dirinya, Shauzia namanya. Kehidupannya tak jauh berbeda seperti Parvana yang mengharuskan ia mencari nafkah bagi keluarganya, yang berbeda dari keluarga Shauzia adalah ternyata antara neneknya dengan ibunya tidak akur, keluarga mereka tidak akur.
10.
Sepuluh
Shauzia dan Parvana menginginkan uang lebih untuk modal mereka berjualan di atas baki agar penghasilan mereka meningkat. Akhirnya mereka mendapat pekerjaan sebagai penggali tulang di tempat yang hancur total karena pengeboman dan kuburan hancur berantakan hingga banyak tulang-tulang yang mencuat ke luar. Uang yang mereka dapatkan dari mencari tulang pun cukup banyak.
11.
Sebelas
Parvana memberi tahu keluarganaya tentang pekerjaan barunya sebagai pencari tulang dan langsung ditentang habis-habisan oleh ibunya namun karena kebutuhan yang semakin sulit akhirnya Parvana tetap diizinkan untuk bekerja sebagai pencari tulang denagn syarat ia harus menceritakan segala sesuatunya bahkan hal yang terkecil kepada ibunya dan Bu Weera agar ceritanya dapat dimasukan ke dalam majalah untuk diceritakan kepada seluruh wanita di dunia.
Akirnya dalam beberapa hari Parvana dan Shauzi berhasil membeli baki, saat ia sedang berlatih membawa baki dengan isi di dalamnya seperti rokok, permen karet atau korek api seseorang menjatuhkan sebutir manik kayu berwarna merah.
Kini Parvana sudah mulai berjualan menggunkan baki, saat sedang berkeliling ia dan Shauzia melihat kerumunan orang di stadion olah raga, Parvana dan Shauzia fikir itu baik karena orang mungkin akan menonton sepak bola sambil merokok atau mengunyah permen karet namun suasana kali ini terasa berbeda dan Parvana mulai merasa takut saat tentara Taliban mulai masuk bersama dengan pria yang dibawa dengan tangan terikat, salah seorang tahanan di lebaskan ikatan tangannya dan di giring ke meja, beberapa tentara memeganginya dan memaksanya untuk berlutut, kedua tangannya di rentangakan ke atas meja dan kemudian sebilah pedang di keluarkan dan kemudian yang bisa Parvana lihat hanya darah yang tersebar di mana-mana, pria itu adalah seorang pencuri kata seseorang di samping parvana, Shauzia menunduk saat kejadian itu terjadi
12.
Dua Belas
Setelah melihat hal yang tidak mengenakkan itu Parvana enggan untuk keluar rumah namun ia menyadari ia harus bangkit. Shauzia mengutarakan niatnaya untuk pergi dari Afghanstan dan bahkan Shauzia sudah mulai menabung. Parvana juga menceritakan tentang seseorang yang terus menjatuhkan hadiah kepadanya dari balik jendela.
setiap harinya Parvana selalu menceri cerita baru, entah mendengar cerita dari pelanggannya atau tentang perang dan pertempuran yang mereka alami.
Ibu dan Bu Weera membangun sebuah sekolah kecil rahasia dengan Nooria sebagai gurunya dan hanya mempunyai 5 murid yang umur yang sama dengan Maryam yaitu 5 tahun.
Hadiah yang berjatuhan terus datang setiap dua minggunya.
Suatu sore Parvana mendengar seorang pria yang berteriak marah di jendela itu kemudian terdengar sebuah pukulan di sertai suara wanita yang menangis, Parvana harap wanita itu baik-baik saja.
13.
Tiga Belas
Nooria akan menikah dangan alasan agar Nooria dapat bersekolah kembali karena daerah yang di tembati oleh calon suaminya adalah daerah yang aman dari tentara Taliban dan beraharap menemukan kehidupan yang lebih baik lagi. Namun Parvana enggan meninggalkan Kabul dengan alasan jikalau ayahnya kembali tidak ada orang di rumah. Akhirnya Parvna tidak ikut ke Mazar-e-Sharid tempat calon suami Nooria berada. Parvana tinggal bersama dengan Bu Weera. Setelah kepergian keluarganya membuat parvana merasa hampa. Di beberapa daerah di Afghanistan gadis-gadis seusia Parvana sudah menikah dan memiliki bayi.
Mendekati akhir Agustus terjadi hujan badai yang menyebabkan Shauzia pulang terlebih dahulu dan membuat Parvana berteduh di dalam gedung kosong menyeramkan
14.
Empat Belas
Tepat setelah hujan reda Parvana mendengar seorang wanita menangis, Parvana menangajak wanita itu untuk ke apartementnya dengan susah payah dikarenaka wanita itu tidak mempunyai Chador. Sesampainya di kediaman Parvana Bu Weera menyambut baik wanita sepantaran Parvana itu dan memberikannya makanan, wanita itu melahap semua makanan itu seperti sangat kelaparan setelah selaesai makan ia tertidur. Keesokan paginya ia baru bercerita, namanya Homa dan ia kabuee dari Mazar-e-Sharid, Taliban menyerang mereka. Homa menceritakan betapa kejamnya Taliban membunuh penduduk. Parvana tak mampu berkata-kata lagi, yang ada di dalam pikirannya sekarang hanya ibunuya, kakaknya serta adiknya yang kemungkinan tewaas seperti yang diceritakan oleh Homa. Parvana hilang harapan, ia bergulung ke dalam selimut seperti apa yang ibunya lakukan dahulu, namun selang beberapa hari Parvana sadar bahwa ia harus bangkit. Parvana melewati hari-harinya seperti mimpi buruk yang tak berakhir pada pagi harinya. Kemudian pada suatu sore sepulang bekerja Parvana melihat dua orang dengan lembut membantu ayahnya menaiki tangga apartementnya, setidaknya sebagian mimpi itu telah berakhir.
15.
Lima Belas
Meski sulit dikenali dengan penampilan yang sangat berantakan Parvana tahu itu adalah ayahnya. Kesehatan ayahnya setelah pulang tidak berangsur pulih, Taliban memukulinya dengan sangat sadis, parvana tidak keberatan ayahnya belum mampu berbicara untuk saat in tetapi dengan kedatanga ayahnya saat ini sudah cukup membuat Parvana sangat bahagia. Harapannya kini telah kembali, ia merasa memiliki tujuan hidup.
Shauzia menceritakan kepada Parvana bahwa kakeknya sudah mulai mencarikan seorang suami untuknya tentu saja Shauzia menolaknya mentah-mentah dan kini ia makin tidak sabar untuk pergi dari Afghannistan.
Parvana mendengar bahwa banyak orang yang meninggalkan Mazar dan kemudian tinggal di pengungsian. Keadaan ayah yang berangsur baik membuat Parvana dan ayahnya berencana untuk mencari ibu serta saudara-saudaranya ke pengungsian, Bu Weera akan pergi bersama cucunya dan Homa ke Pakistan sementara Shauzia akan ikut berlayar meninggalkan Afghanistan. Beberapa hari sebelum keberangkatannya mencari ibu dan saudara-saudaranya Parvana mengunjungi tempat kerjanya, sebuah hiasan manic-manik unta jatuh tepan di kepalanya, Parvana senang wanita itu masih hidup dan berencana untuk memberikan salam perpisahan. Ia menanan bunga di tempat ia biasa duduk, walau banyak yang meremehkannya tetapi  masih ada orang yang membantunya. Setelah selesai menanam bungan Parvana melambaikan tangannya kearah jendela itu dan ia merasa ada yang membalas lambaian tangannya.
Tepat sebelum kepergiannya majalah yang ibu dan Bu Weera kerjakan akhirnya selesai dan siap di kirim kepada seluruh wanita di seluruh dunia.
Parvana mengucap janji kepada Shauzia bahwa mereka akan bertemu lagi 20 tahun yang akan datang tepatnya pada musim semi di atas puncak Menara Eiffel di Paris dan kata yang tepat untuk Shauzia dan Parvana bukanlah “selamat tinggal” namun “Sampai jumpa”
Tak ada yang tahu akan masa depan yang terbentang di jalan di hadapannya. Apakah Afghanistan akan damai? Ibu serta saudaranya telah jauh di depannya, Parvana tidak bisa menebak apa yang terjadi kemudian hari. Apapun itu, ia merasa siap.
  
3.     Kelebihan dan Kekurangan
Parvana 1 Sang Pencari Nafkah merupakan seri pertama dalam Trilogi Petualangan Parvana yang ditulis oleh Deborah Ellis yang kemudian di terjemahkan dalam bahasa Indonesia pada tahun 2011. Buku Parwana 1 Sang Pencari Nafkah ini tergolong susah untuk di jumpai di toko buku karena memang sudah tidak di terbitkan lagi, namun jika ada yang ingin membelinya buku ini masih banyak dijumpai di toko online dengan kondisi buku yang beragam.
Secara keseluruhan buku ini termasuk bacaan ringan walau isinya mengandung pembahasan yang cukup berat, penulisnya dapat mengemas kisah Parvana sehingga dapat mudah dipahami dengan baik. Bahasa yang digunakan juga tidak terlalu bertele-tele, padat dan jelas. Buku ini juga dapat juga diibaca oleh semua umur bahkan anak-anak dengan bimbingan orang tua karena banyak sekali pesan yang terdapat di dalam buku ini. Buku ini juga dapat membawa kita ke masa puluhan tahun lalu ketika Afghanistan masih dikuasai oleh Soviet kemudian saat Soviet dipukul mundur kemudian tentara Taliban mulai menguasai Afghanistan. Ketegangan, ketakutan para wanita dan anak-anak Afghanistan bisa tergambarkan dengan jelas dalam buku ini, bagaimana perjuangan mereka menghadapi peperangan, kehilangan sanak saudara, keluarga, dan seluruh harta benda. Kita sebagai pembaca turut serta merasakan penderitaan mereka. Sungguh buku yang sangat memotivasi.
Dalam buku ini juga banyak bahasa dan kosa kata asing, namun arti dari kata tersebut di tempatkan pada halaman paling belakang buku sehingga kita perlu membolak balik halaman dan mencari artinya pada daftar istilah jika menemukan kata asing dan menurut saya itu cukup merepotkan jika dibandingkan dengan buku lain yang menempatkan arti dari istilah asing pada halaman bawah yang terdapat istilah asingnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

capek

 nggak punya tenaga, capek banget