Kali ini gue mau ngebagiin tugas resensi gue dulu waktu SMA, kayaknya ini bukan resensi buku yang sempurna deh, soalnya dulu guru gue nyuruhnya gini "Kalian bikin resensi buku fiksi ya, tapi sinopsis sama pendapat tentang buku dipisah dan sinosis bukunya dibuat per bab"
setau yang pernah dibuat orang di blog lain bentuknya nggak kayak gini, jadi karena gua murid yang baik dan teladan akhirnya gue kerjain dengan hati ikhlas wkwkwkw
oh iya karena dulu gue termasuk murid pemalas jadi sinopsis perbabnya gua bikin dari kalimat buku itu sendiri wkkwwkw
enjoy!
TUGAS BAHASA INDONESIA “RESENSI BUKU FIKSI”
OLEH CAROLINE RAHMA MAULINA
KELAS XII MIPA 2
1.
Identitas Buku
Judul : PARVANA 1 Sang Pencari Nafkah
Judul Asli : The Breadwinner
Pengarang : Deborah Ellis
Penerjemah : Adzimattinur Siregar
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerbit Awal : Grroundwood Books
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Maret 2011
Jumlah Halaman : 122 Halaman
ISBN-13 : 978-979-91-0330-7
2.
Resensi
|
No.
|
Bab/Subbab
|
Informasi
Penting
|
|
1.
|
Satu
|
Parvana
merupakan gadis Afghanistan dari daerah Kabul. Pasukan Soviet yang menyerbu
Afghanistan dapat di pukul mundur ke negara mereka satu tahun sebelum Parvana
di lahirkan kemudian tentara Taliban menguasai sebagian besar daerah
Afghanistan. Parvana berusia 11 tahun saat sekolahnya harus terhenti karena
tentara Taliban, saat kebebasan para wanita sangat dibatasi. Parvana dengan
setia memapah ayahnya yang salah satu kakinya hilang karena perang untuk
bekerja di pasar sebagai seorang pembaca dan penulis surat (kurangnya
pendidikan bagi rakyat Afghanistan) dan menjual barang barang yang tersisa.
Keluarga Parvana terdiri dari Ayah, Ibu, Nooria (Kakaknya), Maryam (Adik
pertama), Ali ( Adik keduanya). Sebenarnya Parvana mempunyai kakak sebelum
Nooria yang bernama Hossain namun ia harus meninggal saat berusia 14 tahun
karena terkena ranjau darat. Keluarga Parvana dahulu merupakan keluarga yang
berada dan terpelajar, ayahnya seorang lulusan universitas di Inggris dan
ibunya adalah seorang wartawan, namun kehidupan mereka terubah sejak perang
terjadi.
|
|
2.
|
Dua
|
Parvana
kini tinggal di apartement kecil berkas terkena ledakan dan mereka terpaksa
harus tinggal berjauhan dengan para tetangga karena Taliban selalu mempunyai
mata-mata dimanapun. Keluarga besar Parvana harus tidur di satu ruangan yang
sama.
Saat
makan malam sedang berlangsung tiba-tiba Taliban masuk kedalam ruangan
mereka, menarik paksa ayahnya, barang-barang dihembaskan dan dibanting,
lemari mereka digeledah takut-takut terdapat buku bacaan. Parvana gelisah,
semua buku berbahasa Inggris dan buku pengetahuan milik ayahnya disembunyikan
dalam lemari tersebut, Ali yang masih bayi serta Maryam yang berusia 5 tahun
terus menangis sementara ibu dan berusaha mencegah Taliban mengambil ayah.
Nooria berusaha menenangkan Ali dan Maryam sementara Parvana menghempaskan
tubuhnya sendiri agar tidak ada yang dapat mengambil buku milik ayahnya,
|
|
3.
|
Tiga
|
Setelah
ayahnya ditangkap oleh Taliban, Parvana dan Ibunya berusaha mencari
keberadaan ayahnya dengan menunjukan foto ayahnay kepada pejalan yang lewat,
walau sebenarnya keberadaan foto sangat dilarang. Semua orang yang ditanyai
selalu menggeleng tak tau, terlalu banyak orang yang ditahan, terlalu banyak
orang yang hilang. Mereka mengunjungi penjara terdekat dengan daerah mereka
walau jaraknya sangat jauh, para penjaga tidak mengirauan pertanyaan mereka,
usiran dan pukulan harus terpaksa Parvana dan ibunya terima.
|
|
4.
|
Empat
|
Perjalanan
yang panjang membuat baik ia maupun ibunya sangat letih apalagi Parvana harus
memapah ibunya seperti memapah ayahnya dulu karena ibunya yang hampi satu
tahun tidak keluar rumah dan keadaannya jauh lebih parah dari pada Parvana,
kaki ibunya berdarah dan keadaannya cukup memprihatinkan. Sebenarnya Ibu
Parvana memiliki kesepatan untuk pergi dari Afghanistan namun ia memilih
untuk tinggal “Jika semua orang terpelajar pergi, siapa yang akan membangun
negeri ini?” begitulah alasan mengapa ia memilih tinggal. Tapi kini ibunya
memilih bergulung dalam selimut dan tidak bergerak sedikitpun hingga seluarga
mereka akhirnya kekurangan makanan.
|
|
5.
|
Lima
|
Keluarganya
butuh makanan dan Parvana terpaksa untuk pergi keluar rumah untuk membeli
makanan yang kemudian ia dikejar oleh para Taliban, untung ia bertemu Bu
Weera seorang teman ibunya di Persatuan Wanita Afghanistan. Kedatangan Bu Weera
dalam rumahnya membuat Parvana merasa sedikit lega karena setidaknya ada
orang dewasa yang dapat bertanggung jawab dan ibu akhirnya dapat bangun untuk
membersihkan diri.
|
|
6.
|
Enam
|
Keadaan
mereka semakin lama semakin memprihatinkan yang membuat Bu Weera dan ibu
sepakat untuk membuat Parvana menjadi seorang laki-laki karena ibunya serta
Nooria sudah tidak memungkinkan untuk keluar rumah dengan leluasa. Itu semua
demi menunjang keuangan keluarganya. Sebagai anak laki-laki ia bisa leluasa
keluar masuk pasar, membeli semua peralatan dengan leluasa. Penampilannya
sebagai laki-laki membuat ibunya mengingat kembali Hossain dan tampak sedih
saat melihat Parvana namun kata Nooria ibu akan segera terbiasa.
|
|
7.
|
Tujuh
|
Uang
terus menipis yang membuat Parvana harus bekerja sebagai orang yang
membacakan dan menulis surat, menjual barang barang seperti pekerjaan ayahnya
dulu. Ia cukup berpendidikan daripada warga Afghanistan lain. Parvana bekerja
di tempat ia dan ayahnya sering berkerja, tepat di samping gedung dekat pasar.
Seorang
tentara Taliban tiba-tiba mendatanginya ingin dibacakan surat dan ketika
surat seleasi dibacakan seorang Taliban itu meneteskan airmata, Parvana
sejenak berfikir mungkinkah tentara Taliban yang kerap memukuli wanita dan
anak-anak juga bisa bersedih dan meneteskan air mata?
|
|
8.
|
Delapan
|
Ibu
Parvana kini telah bangkit, ia bekerja sama dengan Bu Weera yang kini sudah
tinggal bersama dengan Parvana dengan seorang cucunya. Rutinitas Parvana kini
berubah, pagi-pagi sekali ke pasar unntuk bekerja, pulang siang hari untuk
makan siang dan kembali ke pasar pada sore hari. Sekarang ia adalah seorang
laki-laki yang dapat menjadi pendamping bagi Nooria maupun ibunya agar dapat
sejenak berjalan-jalan ke luar rumah.
Saat
sedang bekerja ia menyadari bahwa ada sebuah jendela kecil di atasnaya,
secarik kain sulam jatuh di atas selimut tempat ia bekerja, dihari berikutnya
ia menemukan gelang manik-manik.
Suatu
hari ia menemukan sorang pelayan laki-laki yang ia kenali sebagai teman
sekolahnya dulu.
|
|
9.
|
Sembilan
|
Pelayan
laki-laki itu ternyata adalah seorang perempuan seperti dirinya, Shauzia
namanya. Kehidupannya tak jauh berbeda seperti Parvana yang mengharuskan ia
mencari nafkah bagi keluarganya, yang berbeda dari keluarga Shauzia adalah
ternyata antara neneknya dengan ibunya tidak akur, keluarga mereka tidak
akur.
|
|
10.
|
Sepuluh
|
Shauzia
dan Parvana menginginkan uang lebih untuk modal mereka berjualan di atas baki
agar penghasilan mereka meningkat. Akhirnya mereka mendapat pekerjaan sebagai
penggali tulang di tempat yang hancur total karena pengeboman dan kuburan
hancur berantakan hingga banyak tulang-tulang yang mencuat ke luar. Uang yang
mereka dapatkan dari mencari tulang pun cukup banyak.
|
|
11.
|
Sebelas
|
Parvana
memberi tahu keluarganaya tentang pekerjaan barunya sebagai pencari tulang
dan langsung ditentang habis-habisan oleh ibunya namun karena kebutuhan yang
semakin sulit akhirnya Parvana tetap diizinkan untuk bekerja sebagai pencari
tulang denagn syarat ia harus menceritakan segala sesuatunya bahkan hal yang
terkecil kepada ibunya dan Bu Weera agar ceritanya dapat dimasukan ke dalam
majalah untuk diceritakan kepada seluruh wanita di dunia.
Akirnya
dalam beberapa hari Parvana dan Shauzi berhasil membeli baki, saat ia sedang
berlatih membawa baki dengan isi di dalamnya seperti rokok, permen karet atau
korek api seseorang menjatuhkan sebutir manik kayu berwarna merah.
Kini
Parvana sudah mulai berjualan menggunkan baki, saat sedang berkeliling ia dan
Shauzia melihat kerumunan orang di stadion olah raga, Parvana dan Shauzia
fikir itu baik karena orang mungkin akan menonton sepak bola sambil merokok
atau mengunyah permen karet namun suasana kali ini terasa berbeda dan Parvana
mulai merasa takut saat tentara Taliban mulai masuk bersama dengan pria yang
dibawa dengan tangan terikat, salah seorang tahanan di lebaskan ikatan
tangannya dan di giring ke meja, beberapa tentara memeganginya dan memaksanya
untuk berlutut, kedua tangannya di rentangakan ke atas meja dan kemudian
sebilah pedang di keluarkan dan kemudian yang bisa Parvana lihat hanya darah
yang tersebar di mana-mana, pria itu adalah seorang pencuri kata seseorang di
samping parvana, Shauzia menunduk saat kejadian itu terjadi
|
|
12.
|
Dua
Belas
|
Setelah
melihat hal yang tidak mengenakkan itu Parvana enggan untuk keluar rumah
namun ia menyadari ia harus bangkit. Shauzia mengutarakan niatnaya untuk
pergi dari Afghanstan dan bahkan Shauzia sudah mulai menabung. Parvana juga
menceritakan tentang seseorang yang terus menjatuhkan hadiah kepadanya dari
balik jendela.
setiap
harinya Parvana selalu menceri cerita baru, entah mendengar cerita dari
pelanggannya atau tentang perang dan pertempuran yang mereka alami.
Ibu
dan Bu Weera membangun sebuah sekolah kecil rahasia dengan Nooria sebagai
gurunya dan hanya mempunyai 5 murid yang umur yang sama dengan Maryam yaitu 5
tahun.
Hadiah
yang berjatuhan terus datang setiap dua minggunya.
Suatu
sore Parvana mendengar seorang pria yang berteriak marah di jendela itu
kemudian terdengar sebuah pukulan di sertai suara wanita yang menangis, Parvana
harap wanita itu baik-baik saja.
|
|
13.
|
Tiga
Belas
|
Nooria
akan menikah dangan alasan agar Nooria dapat bersekolah kembali karena daerah
yang di tembati oleh calon suaminya adalah daerah yang aman dari tentara
Taliban dan beraharap menemukan kehidupan yang lebih baik lagi. Namun Parvana
enggan meninggalkan Kabul dengan alasan jikalau ayahnya kembali tidak ada
orang di rumah. Akhirnya Parvna tidak ikut ke Mazar-e-Sharid tempat calon
suami Nooria berada. Parvana tinggal bersama dengan Bu Weera. Setelah kepergian
keluarganya membuat parvana merasa hampa. Di beberapa daerah di Afghanistan
gadis-gadis seusia Parvana sudah menikah dan memiliki bayi.
Mendekati
akhir Agustus terjadi hujan badai yang menyebabkan Shauzia pulang terlebih
dahulu dan membuat Parvana berteduh di dalam gedung kosong menyeramkan
|
|
14.
|
Empat
Belas
|
Tepat
setelah hujan reda Parvana mendengar seorang wanita menangis, Parvana
menangajak wanita itu untuk ke apartementnya dengan susah payah dikarenaka
wanita itu tidak mempunyai Chador. Sesampainya
di kediaman Parvana Bu Weera menyambut baik wanita sepantaran Parvana itu dan
memberikannya makanan, wanita itu melahap semua makanan itu seperti sangat
kelaparan setelah selaesai makan ia tertidur. Keesokan paginya ia baru
bercerita, namanya Homa dan ia kabuee dari Mazar-e-Sharid, Taliban menyerang
mereka. Homa menceritakan betapa kejamnya Taliban membunuh penduduk. Parvana
tak mampu berkata-kata lagi, yang ada di dalam pikirannya sekarang hanya
ibunuya, kakaknya serta adiknya yang kemungkinan tewaas seperti yang
diceritakan oleh Homa. Parvana hilang harapan, ia bergulung ke dalam selimut
seperti apa yang ibunya lakukan dahulu, namun selang beberapa hari Parvana
sadar bahwa ia harus bangkit. Parvana melewati hari-harinya seperti mimpi
buruk yang tak berakhir pada pagi harinya. Kemudian pada suatu sore sepulang
bekerja Parvana melihat dua orang dengan lembut membantu ayahnya menaiki
tangga apartementnya, setidaknya sebagian mimpi itu telah berakhir.
|
|
15.
|
Lima Belas
|
Meski
sulit dikenali dengan penampilan yang sangat berantakan Parvana tahu itu
adalah ayahnya. Kesehatan ayahnya setelah pulang tidak berangsur pulih,
Taliban memukulinya dengan sangat sadis, parvana tidak keberatan ayahnya
belum mampu berbicara untuk saat in tetapi dengan kedatanga ayahnya saat ini
sudah cukup membuat Parvana sangat bahagia. Harapannya kini telah kembali, ia
merasa memiliki tujuan hidup.
Shauzia
menceritakan kepada Parvana bahwa kakeknya sudah mulai mencarikan seorang
suami untuknya tentu saja Shauzia menolaknya mentah-mentah dan kini ia makin
tidak sabar untuk pergi dari Afghannistan.
Parvana
mendengar bahwa banyak orang yang meninggalkan Mazar dan kemudian tinggal di
pengungsian. Keadaan ayah yang berangsur baik membuat Parvana dan ayahnya
berencana untuk mencari ibu serta saudara-saudaranya ke pengungsian, Bu Weera
akan pergi bersama cucunya dan Homa ke Pakistan sementara Shauzia akan ikut
berlayar meninggalkan Afghanistan. Beberapa hari sebelum keberangkatannya
mencari ibu dan saudara-saudaranya Parvana mengunjungi tempat kerjanya,
sebuah hiasan manic-manik unta jatuh tepan di kepalanya, Parvana senang
wanita itu masih hidup dan berencana untuk memberikan salam perpisahan. Ia
menanan bunga di tempat ia biasa duduk, walau banyak yang meremehkannya
tetapi masih ada orang yang
membantunya. Setelah selesai menanam bungan Parvana melambaikan tangannya
kearah jendela itu dan ia merasa ada yang membalas lambaian tangannya.
Tepat
sebelum kepergiannya majalah yang ibu dan Bu Weera kerjakan akhirnya selesai
dan siap di kirim kepada seluruh wanita di seluruh dunia.
Parvana
mengucap janji kepada Shauzia bahwa mereka akan bertemu lagi 20 tahun yang
akan datang tepatnya pada musim semi di atas puncak Menara Eiffel di Paris
dan kata yang tepat untuk Shauzia dan Parvana bukanlah “selamat tinggal”
namun “Sampai jumpa”
Tak
ada yang tahu akan masa depan yang terbentang di jalan di hadapannya. Apakah
Afghanistan akan damai? Ibu serta saudaranya telah jauh di depannya, Parvana
tidak bisa menebak apa yang terjadi kemudian hari. Apapun itu, ia merasa
siap.
|
3.
Kelebihan dan Kekurangan
Parvana
1 Sang Pencari Nafkah merupakan seri pertama dalam Trilogi Petualangan Parvana yang
ditulis oleh Deborah Ellis yang kemudian di terjemahkan dalam bahasa Indonesia
pada tahun 2011. Buku Parwana 1 Sang
Pencari Nafkah ini tergolong susah untuk di jumpai di toko buku karena
memang sudah tidak di terbitkan lagi, namun jika ada yang ingin membelinya buku
ini masih banyak dijumpai di toko online
dengan kondisi buku yang beragam.
Secara keseluruhan buku ini termasuk bacaan ringan
walau isinya mengandung pembahasan yang cukup berat, penulisnya dapat mengemas kisah
Parvana sehingga dapat mudah dipahami dengan baik. Bahasa yang digunakan juga
tidak terlalu bertele-tele, padat dan jelas. Buku ini juga dapat juga diibaca
oleh semua umur bahkan anak-anak dengan bimbingan orang tua karena banyak
sekali pesan yang terdapat di dalam buku ini. Buku ini juga dapat membawa kita
ke masa puluhan tahun lalu ketika Afghanistan masih dikuasai oleh Soviet
kemudian saat Soviet dipukul mundur kemudian tentara Taliban mulai menguasai
Afghanistan. Ketegangan, ketakutan para wanita dan anak-anak Afghanistan bisa
tergambarkan dengan jelas dalam buku ini, bagaimana perjuangan mereka
menghadapi peperangan, kehilangan sanak saudara, keluarga, dan seluruh harta
benda. Kita sebagai pembaca turut serta merasakan penderitaan mereka. Sungguh
buku yang sangat memotivasi.
Dalam buku ini juga banyak bahasa dan kosa kata
asing, namun arti dari kata tersebut di tempatkan pada halaman paling belakang
buku sehingga kita perlu membolak balik halaman dan mencari artinya pada daftar
istilah jika menemukan kata asing dan menurut saya itu cukup merepotkan jika
dibandingkan dengan buku lain yang menempatkan arti dari istilah asing pada
halaman bawah yang terdapat istilah asingnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar