Gue balik dengan tugas kuliah semester 1 nih.
semoga bisa membantu nih atau yang cuma baca baca doang.
Enjoy!
Judul Buku : MARS
Pengarang :
Aishworo Ang
Penerbit :
Safirah
Tahun Terbit :
Cetakan Pertama, Desember 2011
Tebal :
388 Halaman
Pendidikan pertama seorang
anak di mulai oleh orang tua, bagi Palupi sosok ibu adalah pengajar terbaik
sepanjang hidupnya, yang membuatnya hingga dapat menggapai masa depan yang
sangat cerah. Dulu, Walau Dusun Manggarsari, Gunung Kidul tempatnya tinggal
masih kental dengan kepercayaan leluhur, meletakan sesajen di bawah pohon, dan
ritual – ritual lainnya. Penduduk Dusun Manggasari adalah warga miskin yang
membeli air pun tak sanggup, kehidupan mereka pun tak jauh dari penderitaan.
Begitu pula dengan Palupi, salah seorang gadis kecil polos dari Dusun Manggarsari
yang kebahagiaannya berpusat pada anak kambing yang sudah ia gembalakan sejak
sepuluh bulan lalu, meski anak kambing tersebut bukan anak kambing miliknya
tapi di Dusun Manggarsari anak – anak kecil lebih mencintai gembalaannya dari
pada mainan – mainan anak kota pada umumnya.
Ibu
Palupi bukanlah seseorang yang berpendidikan, ia tidak bisa membaca apalagi
menulis, seperti halnya warga Dusun Manggarsari lainnya yang menganggap
pendidikan adalah hal yang sangat istimewa. Hanya beberapa orang saja yang
dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMA selebihnya paling tinggi
hanya mencapai SMP saja setelah itu rata – rata penduduknya merantau ke kota
untuk menjadi pembantu rumah tangga, kerja serabutan, menjadi buruh bangunan
atau bagi perempuan dapat berakhir di pelaminan. Menikah muda. Walau begitu
Tupon, ibu Palupi, memiliki cita – cita kelak anaknya dapat sekolah setinggi –
tingginya. Penduduk Dusun Manggarsari menganggap mengenyam pendidikan bukanlah
penentu hidup mereka akan lebih baik, pendidikan setinggi apapun akan berakhir
menjadi kuli seperti kebanyakan warga yang telah sekolah tinggi yang pada
akhirnya tetap sulit mencari pekerjaan. Tapi, Tupon tetap mengajari Palupi
bahwa anaknya ini harus punya ilmu jika ingin menggapai Lintang Lanthip, sebuah
bintang yang paling bersinar di langit. Keinginan Tupon memang dipenuhi
perjuangan dan pengorbanan, Palupi harus bersekolah walau itu artinya ia hanya
makan seadanya, Palupi harus pintar dengan memakan makan bergizi walau Tupon hanya
makan nasi tiwul saja.
Suatu
hari datang pemuda dua pulih lima tahunan ke Dusun Manggarsari. Wajahnya cerah,
pembawaannya tenang dan yang paling menonjol, dia terlihat terpelajar. Ali
Harimurti atau warga sekitar memanggilnya “Ngali” seorang sarjana syariah dari
Universitas Al – Azhar namun dengan banyak prestasi dan tawaran menarik lainnya
ia lebih memilih mengabdi di daerah tandus dan terpencil dengan segala
keterbelakangan. Sedikit demi sedikit “Ngali” berusaha memperbaiki aqidah
masyarakat Dusun Manggarsari yang sudah sangat menyimpang dari ajaran agama.
Dengan lembut dan rendah hati kebiasaan warga sekitar mulai berubah, tidak
memberi sesajen kepada roh dan leluhur dan kebiasaan berpuasa aneh pada hari
hari tertentu mulai di tinggalkan.
Pendaftaran
murid baru telah di buka, Tupon dengan semangat untuk mendaftaran Palupi ke
sekoalah dasar, pagi – pagi sekali Tupon sudah berdiri di depan sekolah tapi
hingga siang hari ia tidak menemukan tanda – tanda keberadaan pendaftaran lain,
sampai Pak Nyoto memberi tahu bahwa pendaftaran ternyata baru di buka pekan
depan. Tupon pulang dengan rasa kecewa, minggu depannya dengan semangat Tupon
kembali mendaftarkan Palupi untuk bersekolah, diberikannya lembaran formulir
kepada Tupon, namun ia merasa gelisah dan hanya duduk termangu, bagaimana orang
yang tidak bisa baca tulis dapat mengisi formulir dengan baik? Tapi pada
ahkirnya Tupon di bantu oleh salah satu guru di sana. Bagi orang dusun seperti
Tupon tanggal lagir dan nomer identitas jarang diperdulikan tapi saat ini ia
harus rela kembali menggendong Palupi dan balik ke rumah untuk mengambil berkas
berkas identitasnya karena ia tidak ingat saat Bu Guru bertanya tentang tangal
lahirnya yang bahkan ia tak tahu. Permasalahan kembali datang saat ternyata
Palupi tidak bisa mendaftar sekolah karena umurnya belum genap tujuh tahun.
Tahun
berikutnya dengan segala persiapan yang telah matang berekal pengalaman tahun
lalu akhirnya Palupi dapat bersekolah. Palupi berteman dengan Warjono yang
terkenal sangat nakal dan suka mencuri, hati Tupon sedikit gusar mana kala
tetangga mulai membicarakan putrinya, di tambah lagi ia mulai mendengar kabar
bahwa Palupi sudah beberapa kali tidak masuk sekolah padahal ia melihat setiap
pagi Palupi selalu memakai seragam dan berangkat sekolah. Pada akhirnya di
ketahui bahwa Palupi enggan sekolah karena ia selalu di ejek “Anak Jadah” oleh
teman temannya yaitu sebutan bagi anak yang lahir tanpa ayah, walau benar
adanya Tupon ada rasa sedih mengingat itu kesalahan dirinya dan sekarang
anaknya yang menjadi bahan ejekan orang. Setelah kembali masuk sekolah berkat
rayuan Tupon, Palupi kembali mendapat masalah karena ia melukai temannya hingga
berdarah karena temannya sudah menghina ibunya. Kemudian tanpa adanya pembelaan
dari Palupi karena temannya merupakan anak dari guru di sana, Palupi di
keluarkan dari sekolah.
Perjuangan
Tupon menyekolahkan Palupi masih berlanjut, Palupi kembali ia daftarkan di
sekolah yang cukup jauh dari rumahnya, sekitar tujuh kilometer jaraknya,
sekolah barunya masih sama seperti sekolah lamanya yang serba terbatas namun
setidaknya teman – teman palupi tidak mengejeknya dengan sebutan “Anak Jadah”
lagi. Tupon masih menjadi ibu yang sangat perhatian kepada Palupi, Tupon rela
berjalan jauh di malam hari, di tengah hujan deras, melewati bukit – bukit
terjal, demi membelikan Palupi sebuat pensil untuk bisa dipakai mengerjakan PR
yang dikumpulkan pagi harinya. Tupon masih tetap tidak mengeluh mengantarkan
Palupi sekolah tujuh kilometer jauhnya tanpa mengeluh, dan senyumnya masih tetap
mengembang ceria. Suatu hari Tupon tidak ceria, Kang Surib, bapaknya Palupi
pergi berpulang ke Gusti Allah saat sedang bekerja di penambangan batu kapur.
Beban palupi bertambah berat, yang sebelumnya kebutuhan hidup keluarganya bisa
seimbang karena ada Kang Surib dan ia fokus mengurus Palupi dan rumah, sekarang
ia yang mengerjakan tugas Kang Surib dan mengarjakan tugasnya sekaligus.
Sepeninggalnya Kang Surib, Tupon bekerja sebagai penjual tempe. Di lain sisi,
bencana terus datang menghampiri Desa Manggarsari, dari pulung gantung yaitu
orang yang meninggal karena bunuh diri, hingga kasus matinya ternak milik warga
secara misterius. Semua kasus itu di hubungkan oleh Ki Mangun seorang
paranormal dusun sebagai akibat marahnya Nyi Gadung Mlati karena warga tak lagi
memberikan sajen dan menentang tradisi leluhur apalagi belakangan Ali ingin
membangun Masjid dan di tentang olah Ki Mangun, menurutnya tempat yang akan di
jadikan Masjid itu adalah tempat peristirahatan Nyi Gadung Mlati. Keresahan
warga semakin menjadi jadi dan Ali terpaksa harus meninggalkan Dusun
Manggarsari.
Palupi
masih berteman dengan Warjono, namun mereka terpisah karena Warjono harus pergi
ke Jogja karena ia ketahuan mencuri ayam dan di jualnya ke pasar karena Warjono
ingin membelikan Simbahnya radio yang sebelumnya rusak, simbahnya terharu
dengan perjuangan cucunya walau cara yang di tempuhnya salah, tak lupa Palupi
di belikan ikat rambut pelagi. Walau sangat nakal Warjono adalah teman yang
baik bagi Palupi.
Sebelas
tahun kemudian, Palupi berhasil menyelesaikan sekolahnya dan mendapat beasiswa
kuliah di Jogja, di saat yang sama lamaran untuk Palupi datang dari anaknya Ki
Mangun, namun Tupon dan Palupi menolaknya. Walaupun banyak omongan dari warga
karena menyiakan kesempatan yang sangat besar bagi warga Dusun Manggarsari tapi
bagi Palupi dan Tupon, kuliah lebih penting. Sejak jauh - jauh hari Tupon sudah
menabung untuk biaya kos Palupi, di Jogja saat sedang mencari kos mereka
menemukan dompet yang pada akhirnya berkat dompet tersebut mereka bertemu
kembali dengan Ali Harimurti yang ternyata dompet yang mereka temukan milik
istrinya “Ngali". Palupi di tawari tempat untuk tinggal selama di Jogja
oleh keluarga Ali sekaligus membantu pekerjaan rumah dan ikut menjaga Ilham,
anak Ali yang masih bayi. Ali tahu bahwa di Dusun Manggarsari akan ada penerus
yang anak membawa desa itu menjadi lebih baik, akan keturunan yang membaca
cahaya pada dusun itu.
Palupi
tumbuh menjadi mahasiswa yang pintar, ia dipercaya mengisi seminar di
Shrewsbury, lewat obrolannya dengan tokoh
dan hasil belajarnya, kini ia tahu bahwa pulung gantung memiliki banyak
sebab salah satunya yaitu faktor kemiskinan. Palupi dewasa kini dapat menjawab
pertanyaan – pertanyaan tentang hubungan antara agama dan kehidupan sehari –
harinya, hubungan sebab akibat mengapa semua hal dapat terjadi, Palupi sekarang
dapat membuktikan kepada seluruh warga desa bahwa ia bisa, ia dapat sukses. Palupi berhasil diwisuda menjadi sarjana di
kota Jogja, Palupi yang ingin membagi kebahagiaannya kepada simboknya tercinta,
ibu yang menginspirasinya tetapi sesampainya di Dusun Manggarsari ia mendapati
bahsa simboknya sudah meninggal dunia, Palupi tentu sangat terpukul, di
peluknya jenazah simboknya berkali kali tak lupa ia membisikan kata bahwa ia
berhasil, berhasil memenuhi mimpi Tupon, simboknya dan bahkan mendapatkan
beasiswa pascasarjana di Oxford University.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar