Minggu, 17 Februari 2019

SINOPSIS : MARS (Aishworo Ang)

Halo!
Gue balik dengan tugas kuliah semester 1  nih. 
semoga bisa membantu nih atau yang cuma baca baca doang.

Enjoy!


Judul Buku        : MARS
Pengarang       : Aishworo Ang
Penerbit           : Safirah
Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, Desember 2011
Tebal                : 388 Halaman




Pendidikan pertama seorang anak di mulai oleh orang tua, bagi Palupi sosok ibu adalah pengajar terbaik sepanjang hidupnya, yang membuatnya hingga dapat menggapai masa depan yang sangat cerah. Dulu, Walau Dusun Manggarsari, Gunung Kidul tempatnya tinggal masih kental dengan kepercayaan leluhur, meletakan sesajen di bawah pohon, dan ritual – ritual lainnya. Penduduk Dusun Manggasari adalah warga miskin yang membeli air pun tak sanggup, kehidupan mereka pun tak jauh dari penderitaan. Begitu pula dengan Palupi, salah seorang gadis kecil polos dari Dusun Manggarsari yang kebahagiaannya berpusat pada anak kambing yang sudah ia gembalakan sejak sepuluh bulan lalu, meski anak kambing tersebut bukan anak kambing miliknya tapi di Dusun Manggarsari anak – anak kecil lebih mencintai gembalaannya dari pada mainan – mainan anak kota pada umumnya.
            Ibu Palupi bukanlah seseorang yang berpendidikan, ia tidak bisa membaca apalagi menulis, seperti halnya warga Dusun Manggarsari lainnya yang menganggap pendidikan adalah hal yang sangat istimewa. Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMA selebihnya paling tinggi hanya mencapai SMP saja setelah itu rata – rata penduduknya merantau ke kota untuk menjadi pembantu rumah tangga, kerja serabutan, menjadi buruh bangunan atau bagi perempuan dapat berakhir di pelaminan. Menikah muda. Walau begitu Tupon, ibu Palupi, memiliki cita – cita kelak anaknya dapat sekolah setinggi – tingginya. Penduduk Dusun Manggarsari menganggap mengenyam pendidikan bukanlah penentu hidup mereka akan lebih baik, pendidikan setinggi apapun akan berakhir menjadi kuli seperti kebanyakan warga yang telah sekolah tinggi yang pada akhirnya tetap sulit mencari pekerjaan. Tapi, Tupon tetap mengajari Palupi bahwa anaknya ini harus punya ilmu jika ingin menggapai Lintang Lanthip, sebuah bintang yang paling bersinar di langit. Keinginan Tupon memang dipenuhi perjuangan dan pengorbanan, Palupi harus bersekolah walau itu artinya ia hanya makan seadanya, Palupi harus pintar dengan memakan makan bergizi walau Tupon hanya makan nasi tiwul saja.
            Suatu hari datang pemuda dua pulih lima tahunan ke Dusun Manggarsari. Wajahnya cerah, pembawaannya tenang dan yang paling menonjol, dia terlihat terpelajar. Ali Harimurti atau warga sekitar memanggilnya “Ngali” seorang sarjana syariah dari Universitas Al – Azhar namun dengan banyak prestasi dan tawaran menarik lainnya ia lebih memilih mengabdi di daerah tandus dan terpencil dengan segala keterbelakangan. Sedikit demi sedikit “Ngali” berusaha memperbaiki aqidah masyarakat Dusun Manggarsari yang sudah sangat menyimpang dari ajaran agama. Dengan lembut dan rendah hati kebiasaan warga sekitar mulai berubah, tidak memberi sesajen kepada roh dan leluhur dan kebiasaan berpuasa aneh pada hari hari tertentu mulai di tinggalkan.
            Pendaftaran murid baru telah di buka, Tupon dengan semangat untuk mendaftaran Palupi ke sekoalah dasar, pagi – pagi sekali Tupon sudah berdiri di depan sekolah tapi hingga siang hari ia tidak menemukan tanda – tanda keberadaan pendaftaran lain, sampai Pak Nyoto memberi tahu bahwa pendaftaran ternyata baru di buka pekan depan. Tupon pulang dengan rasa kecewa, minggu depannya dengan semangat Tupon kembali mendaftarkan Palupi untuk bersekolah, diberikannya lembaran formulir kepada Tupon, namun ia merasa gelisah dan hanya duduk termangu, bagaimana orang yang tidak bisa baca tulis dapat mengisi formulir dengan baik? Tapi pada ahkirnya Tupon di bantu oleh salah satu guru di sana. Bagi orang dusun seperti Tupon tanggal lagir dan nomer identitas jarang diperdulikan tapi saat ini ia harus rela kembali menggendong Palupi dan balik ke rumah untuk mengambil berkas berkas identitasnya karena ia tidak ingat saat Bu Guru bertanya tentang tangal lahirnya yang bahkan ia tak tahu. Permasalahan kembali datang saat ternyata Palupi tidak bisa mendaftar sekolah karena umurnya belum genap tujuh tahun.
            Tahun berikutnya dengan segala persiapan yang telah matang berekal pengalaman tahun lalu akhirnya Palupi dapat bersekolah. Palupi berteman dengan Warjono yang terkenal sangat nakal dan suka mencuri, hati Tupon sedikit gusar mana kala tetangga mulai membicarakan putrinya, di tambah lagi ia mulai mendengar kabar bahwa Palupi sudah beberapa kali tidak masuk sekolah padahal ia melihat setiap pagi Palupi selalu memakai seragam dan berangkat sekolah. Pada akhirnya di ketahui bahwa Palupi enggan sekolah karena ia selalu di ejek “Anak Jadah” oleh teman temannya yaitu sebutan bagi anak yang lahir tanpa ayah, walau benar adanya Tupon ada rasa sedih mengingat itu kesalahan dirinya dan sekarang anaknya yang menjadi bahan ejekan orang. Setelah kembali masuk sekolah berkat rayuan Tupon, Palupi kembali mendapat masalah karena ia melukai temannya hingga berdarah karena temannya sudah menghina ibunya. Kemudian tanpa adanya pembelaan dari Palupi karena temannya merupakan anak dari guru di sana, Palupi di keluarkan dari sekolah.
            Perjuangan Tupon menyekolahkan Palupi masih berlanjut, Palupi kembali ia daftarkan di sekolah yang cukup jauh dari rumahnya, sekitar tujuh kilometer jaraknya, sekolah barunya masih sama seperti sekolah lamanya yang serba terbatas namun setidaknya teman – teman palupi tidak mengejeknya dengan sebutan “Anak Jadah” lagi. Tupon masih menjadi ibu yang sangat perhatian kepada Palupi, Tupon rela berjalan jauh di malam hari, di tengah hujan deras, melewati bukit – bukit terjal, demi membelikan Palupi sebuat pensil untuk bisa dipakai mengerjakan PR yang dikumpulkan pagi harinya. Tupon masih tetap tidak mengeluh mengantarkan Palupi sekolah tujuh kilometer jauhnya tanpa mengeluh, dan senyumnya masih tetap mengembang ceria. Suatu hari Tupon tidak ceria, Kang Surib, bapaknya Palupi pergi berpulang ke Gusti Allah saat sedang bekerja di penambangan batu kapur. Beban palupi bertambah berat, yang sebelumnya kebutuhan hidup keluarganya bisa seimbang karena ada Kang Surib dan ia fokus mengurus Palupi dan rumah, sekarang ia yang mengerjakan tugas Kang Surib dan mengarjakan tugasnya sekaligus. Sepeninggalnya Kang Surib, Tupon bekerja sebagai penjual tempe. Di lain sisi, bencana terus datang menghampiri Desa Manggarsari, dari pulung gantung yaitu orang yang meninggal karena bunuh diri, hingga kasus matinya ternak milik warga secara misterius. Semua kasus itu di hubungkan oleh Ki Mangun seorang paranormal dusun sebagai akibat marahnya Nyi Gadung Mlati karena warga tak lagi memberikan sajen dan menentang tradisi leluhur apalagi belakangan Ali ingin membangun Masjid dan di tentang olah Ki Mangun, menurutnya tempat yang akan di jadikan Masjid itu adalah tempat peristirahatan Nyi Gadung Mlati. Keresahan warga semakin menjadi jadi dan Ali terpaksa harus meninggalkan Dusun Manggarsari.
            Palupi masih berteman dengan Warjono, namun mereka terpisah karena Warjono harus pergi ke Jogja karena ia ketahuan mencuri ayam dan di jualnya ke pasar karena Warjono ingin membelikan Simbahnya radio yang sebelumnya rusak, simbahnya terharu dengan perjuangan cucunya walau cara yang di tempuhnya salah, tak lupa Palupi di belikan ikat rambut pelagi. Walau sangat nakal Warjono adalah teman yang baik bagi Palupi.
            Sebelas tahun kemudian, Palupi berhasil menyelesaikan sekolahnya dan mendapat beasiswa kuliah di Jogja, di saat yang sama lamaran untuk Palupi datang dari anaknya Ki Mangun, namun Tupon dan Palupi menolaknya. Walaupun banyak omongan dari warga karena menyiakan kesempatan yang sangat besar bagi warga Dusun Manggarsari tapi bagi Palupi dan Tupon, kuliah lebih penting. Sejak jauh - jauh hari Tupon sudah menabung untuk biaya kos Palupi, di Jogja saat sedang mencari kos mereka menemukan dompet yang pada akhirnya berkat dompet tersebut mereka bertemu kembali dengan Ali Harimurti yang ternyata dompet yang mereka temukan milik istrinya “Ngali". Palupi di tawari tempat untuk tinggal selama di Jogja oleh keluarga Ali sekaligus membantu pekerjaan rumah dan ikut menjaga Ilham, anak Ali yang masih bayi. Ali tahu bahwa di Dusun Manggarsari akan ada penerus yang anak membawa desa itu menjadi lebih baik, akan keturunan yang membaca cahaya pada dusun itu.
            Palupi tumbuh menjadi mahasiswa yang pintar, ia dipercaya mengisi seminar di Shrewsbury, lewat obrolannya dengan tokoh  dan hasil belajarnya, kini ia tahu bahwa pulung gantung memiliki banyak sebab salah satunya yaitu faktor kemiskinan. Palupi dewasa kini dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan tentang hubungan antara agama dan kehidupan sehari – harinya, hubungan sebab akibat mengapa semua hal dapat terjadi, Palupi sekarang dapat membuktikan kepada seluruh warga desa bahwa ia bisa, ia dapat sukses.  Palupi berhasil diwisuda menjadi sarjana di kota Jogja, Palupi yang ingin membagi kebahagiaannya kepada simboknya tercinta, ibu yang menginspirasinya tetapi sesampainya di Dusun Manggarsari ia mendapati bahsa simboknya sudah meninggal dunia, Palupi tentu sangat terpukul, di peluknya jenazah simboknya berkali kali tak lupa ia membisikan kata bahwa ia berhasil, berhasil memenuhi mimpi Tupon, simboknya dan bahkan mendapatkan beasiswa pascasarjana di Oxford University.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

capek

 nggak punya tenaga, capek banget